Wanita 212 di Wiro Sableng, Sebuah Kajian Sableng

Agar para generasi milenial nyambung dengan film Wiro Sableng dan sama-sama start dari titik yang sama, di bagian awal film ini mencoba menjelaskan tentang sejarah Wiro, gurunya si Sinto Gendeng, hingga makna numerical code 212 di Kapak Sakti Naga Geni dan dada darinya. Yang saya sebutkan terakhir, saya terketuk untuk mengulasnya.

Biar saya tidak menjadi korban perundungan karena telah melakukan dosa digital berupa spoiler, maka saya akan membahas 212 versi saya dengan angle wanita berdasarkan sepanjang pengamatan nonton film dengan durasi 123 menit ini. Apalagi saya nonton di CGV menggunakan promo Rp 15.000 di Go-Tix. Malah makin tak enak sendiri kalau terlalu spoiler.

Begini, 212 kajian sableng saya dari sudut pandang wanita pemerannya:

2 untuk Marcella Zalianty

Marcella “Yang Kumis Tipisnya Yang Memacu Jantung Pria Lebih Cepat” Zalianty tampil memesona di film ini. Aktingnya brilian dan khas aktris berkelas. Watak permaisuri yang sempurna sukses dimainkannya.

Dua untuknya adalah dua kalimat saja. Ya, Marcella hanya mengucapkan dua kalimat dalam satu dialog, dari beberapa scene yang ia mainkan: “Anakku” dan “Aku tidak apa-apa” (credit to Niniet Kaluna yang melengkapi redaksionalnya karena saya sempat lupa). Sisanya, ia lebih banyak memainkan senyum getir tertahan dan rona muka dengan perpaduan sorot mata sedih dan menahan dendam.

Mungkin Marcella adalah aktris yang bayarannya dihitung dari jumlah dialog. Dan apabila lebih banyak dialog, bayarannya bisa-bisa lebih tinggi dari aktor utama. Mungkin.

1 untuk Sherina Munaf

Saya selalu sepakat dengan anggapan yang menyebut Petualangan Sherina adalah tonggak kebangkitan film Indonesia dari era mati surinya. Sementara Wiro Sableng adalah film laga kolosal pertama yang go international. Lebih dari itu, prediksi saya, Wiro Sableng akan menjadi tonggak kebangkitan film bergenre sejenis seperti Saur Sepuh dan Misteri Gunung Merapi, yang bukan tak mungkin akan menyusul untuk diremake.

Keberadaan Sherina sebagai Anggini di Wiro Sableng adalah satu perpaduan dari kesuksesan film Indonesia. Selain itu, dia adalah satu-satunya wanita yang terpampang di poster film ini. Ya, Sherina layak untuk mewakili satu.

2 untuk Marsha Timothy

Terus terang saya terbawa untuk mengikuti Wiro (Vino G. Bastian) mengendus-endus bau harum ketika kemunculan pertama Marsha di film ini. Memerankan Bidadari Angin Timur, Marsha didandani berbeda dengan yang lain, keluar dari zaman kerajaan. Lebih modern dan memukau kita hingga kemudian tersadar bahwa ini fana belaka karena Marsha sudah milik Vino.

Gambarnya punya LifeLikePictures

Dua untuk Marsha? Hmm.. Maaf jika agak spoiler. Dua yang saya maksud ini adalah dua kali ia terlibat dalam scene menyelamatkan para protagonis jika dalam keadaan terdesak.

Dua untuk Marsha adalah dua kejutan, atau malah jebakan, yang tak pernah kita tebak dari pengaturan alur film ini.

Demikianlah sedikit kajian wanita dari film Wiro Sableng terkait numerical code 212. Overall film garapan LifeLikePictures ini bagus dan layak tonton dan layak untuk diikuti sequelnya.

Baiklah jika para pembaca menanti-nanti minusnya karena tak lengkap sebuah review jika tanpa mencari-cari kesalahan sebuah film. Hmmm mungkin di make up artist untuk Sinto Gendheng yang tampil dengan tiga era: muda, menyelamatkan dan melatih Wiro kecil, serta saat sang pendekar ini dewasa.

Nah, yang era saat melatih Wiro itu make up-nya rada maksa. Mungkin sulit juga ya menggambarkan tua tapi nggak tua-tua banget. Walhasil, jadi horor dan lengket gitu wajahnya. Bahkan sepintas Sinto Gendeng seperti Rieke Diah Pitaloka kena luka bakar di wajahnya. Itu saja yaa.

#SiapSableng

Yang AL Fatihah Sang Pembuka Juara

Al Fatihah. Itu yang digemakan Bobotoh sebelum peluit kick-off final ISL 2014 di Stadion Jakabaring, Palembang, hari ini dua tahun silam. Bukan chant, bukan nyanyian, bukan pula teriakan merendahkan lawan. Final itu dibuka dengan surat pembuka Alquran.

Bobotoh saat final ISL 2014. Photo by Zen RS

Bobotoh saat final ISL 2014. Photo by Zen RS

Momen Al Fatihah digemakan dengan telanjang dada di tengah kibaran bendera dengan logo Anggur Cap Orang Tua itu yang akan selalu terkenang sampai saat ini, setidaknya bagi saya. yang lanjut membaca →

Yang Cerpen, “Ada Apa Dengan Cinta Satu Malam?”

Kopi di gelas Rangga belum lah habis. Baru lah tiga seruputan, dan ini kopi long black, bukan espresso yang satu tembakan sepeminuman saja. Tapi ketidaknyamanan tersirat di wajahnya yang angkuh, wajah yang hanya bisa terlihat nyaman jika ia tersenyum atau tertawa.

“Pindah tempat yuk,” ujar Rangga sembari menatap di sekeliling.
“Lho kenapa? Katanya aku dapat hadiah dan boleh milih tempat. Kamu nggak suka sama tempat ini?” berondong Cinta.
“Kan aku tadi sudah bilang. Aku suka sama keseriusannya. Tapi…” yang lanjut membaca →

Yang “ME, WE”, Puisi Terindah Muhammad Ali

Muhammad Ali dan The Beatles © Chris Smith—Popperfoto/Getty Images

Adalah wajar jika kematian Muhammad Ali hari ini memenuhi lini masa media sosial Saudara sekalian. Karena di atas ring Ali memang bukan sekadar petinju yang jadi juaranya orang banyak. Lebih dari itu Ali adalah penghibur, pahlawan kemanusiaan serta seorang penyair yang puisinya seperti tak pernah terpikir. Keluar dari mulut tiba-tiba, tapi tetap sarat makna. yang lanjut membaca →

This entry was posted in Nyastra.

Yang Sindiran Eduardo Galeano untuk Bangsa Indonesia

Indonesia ternyata sempat dipotret begitu manisnya oleh Yang Mulia Eduardo Galeano. Penulis maestro -yang menurutku- guru besar sejarah dunia itu sempat menyelipkan bangsa ini dalam buku rangkuman sejarah dari berbagai belahan dunia: “Mirrors, Stories of Almost Everyone”.

Dengan gaya khasnya; ringkas nan sinis, Galeano memang mengajak pembaca buku terbitan tahun 2009 ini untuk bercermin kembali seraya bertanya-tanya dengan diri kita sendiri. Dan, Indonesia disindirnya sebagai bangsa yang pemaaf dalam tulisan berjudul “Crime Pays” (yang kemudian saya terjemahkan dengan “Ganjaran Kejahatan”) terkait kekejaman Soeharto. yang lanjut membaca →

Yang Empal Brewok dan Pistol Gombyok

please, don’t hate me. #random

A photo posted by Twicolabs Design (@twicolabs) on

Sekitar tahun 2003-2004, frasa yang tergambar di atas, Empal Brewok, menjadi perdebatan sengit dalam dunia berita-beritaan pertelevisian. Adalah JTV dengan program berita berbahasa Jawa Timuran, tepatnya Suroboyoan, bertajuk ‘Pojok Kampung’ yang menjadi trigger perdebatan itu. yang lanjut membaca →