Yang Dear Putra Mahkota

Ada ketidak-selarasan memang ketika suporter yang biasa bernyanyi di stadion sepak bola, masuk gedung Basket dan melakukan hal yang sama. Namun, itu tak bisa jadi alasan utama untuk melarang mereka tetap bernyanyi dan nge-chant.

Green Nord saat mendukung CLS, bisa berbaur :)

Green Nord saat mendukung CLS, bisa berbaur :)


Ya, insiden dilarangnya teman-teman Green Nord bernyanyi di DBL Arena Senin malam (22/04) lalu memang sedikit membuat saya kecewa. Betapa sentimentil pribadi lah yang ikut bermain di sini dan membuat aturan dadakan. Sangat tidak bijak sekali!
Maaf pak Putra Mahkota kalau saya terpaksa menulisnya demikian. Rentetan cerita dari teman-teman dan stigma yang ada di kalangan warga Surabaya kalau Anda benci Bonekmania jelas menjadi alasan utama insiden kemarin.

Dari awal satu persatu Bonek datang, saya (yang kebetulan semeja dan beda satu kursi saja dari Anda) bisa menilai tatapan mata Putra Mahkota begitu nggak enak sama mereka. Ketika mereka bernyanyi di belakang ring saya pun jelas mendengar kalimat-kalimat bernada tak simpatik Anda. “Musiknya kencengin! kalau kalah mereka lama-lama capek sendiri,” kata Putra Mahkota.

Kemudian saat MC akan melempar kaos ke penonton di belakang ring, saya juga melihat kalau Putra Mahkota melarangnya. Untung MC nya nggak denger dan tetap memberi mereka T-Shirt sedisi khusus lempar itu.

Musik makin kenceng, chant yang di belakang ring eh malah makin kenceng juga. Putra Mahkota yang merasa ‘kalah’ lalu berdiri dan membisiki stafnya. Saya tak tahu pasti apa yang dikatakan, tapi yang pasti riuh “We Love CLS” yang dinyanyikan ala chant anak-anak Curva sepak bola mereda dan hilang. Usut punya usut mereka dilarang bernyanyi oleh security karena mengganggu yang lain.

Sebentar.. Mereka santun beli tiket, tidak merokok di dalam gedung, tidak melempar botol. Mengganggu dari mananya ya? Tidak ada kata ‘Jancuk ‘juga dalam nyanyiannya. Kalau alasan mengganggu penonton yang lain, karena lagu mereka nggak nyambung dengan teriakan ‘defense‘, kok terkesan lucu ya? Dua hari sebelumnya mereka datang dan bernyanyi lagu yang sama lhoooh. Bagi saya, sesuai dengan bahasa Jawa, penonton itu ndelok. Kendel olehe alok. Berani bersorak. Bebas lah, toh membayar dan sesuai aturan.

Dear Putra Mahkota, ya, mereka yang datang ke DBL Arena ini membayar. Bukan dibayar CLS. Setahu saya mereka divisi kreatif dari Bonek. Ah tapi tak perlu lah saya ceritakan tentang Bonek, Curva Nord dan Curva Sudnya. Sebagai Putra Mahkota dari Raja Media, Anda pasti lebih mahfum dari mcxoem ini. :D

Tak hanya semalaman usai insiden itu, gelombang kekecewaan Bonek dan orang-orang CLS menunjukkan kekecewaannya kepada Anda, terus berlanjut keesokan harinya. Membias dan melebar ke mana-mana. Tahukah Putra Mahkota kalau ketidak-bijaksanaan yang Anda tunjukkan malam itu membuatmu dicap macam-macam di Twitter. Kapitalis lah, diskriminasi lah, not wise, atau menyimpang dari ajaran Raja Media yang dikenal sebagai salah satu founding father Bonek lah dan lain sebagainya?

Saya tak tahu apa yang ada di benak Putra Mahkota malam itu. Bisa saja ini trik Anda yang sudah tahu karakter Bonek agar mereka kembali dengan massa yang lebih besar. Atau ini langkah Anda agar pogram Dear Commisioner banyak yang kirim email. Meskipun nantinya email bernada protes. Entahlah?!

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Leave a Reply