Yang Misteri Pohon di Gelora Tambaksari

Keberadaan pepohonan di atas tribun Gelora 10 Nopember Tambaksari menjadikannya sebagai salah satu stadion terunik di Indonesia. Bukan hanya unik, pepohonan ini ternyata memiliki cerita tersendiri kenapa ia tetap dilestarikan sampai saat ini. Misteri kah?

Awalnya, setahu saya, stadion yang memiliki pepohonan di tribunnya bukan Gelora Tambaksari saja. Stadion Petrokimia Gresik juga sama. “Justru stadion Petro itu niru Tambaksari. Sebelum mereka bangun stadion, pihak Petro konsultasi ke saya dan beberapa orang-orang gelora terkait pohon itu,” bantah Pak Supangat yang .

Ya, MC tetap match Persebaya Surabaya itu memang menjadi orang yang paling layak untuk ditanyai terkait stadion Tambaksari. Beliau juga selalu antusias kalau diminta untuk bercerita terkait sepak bola dan Surabaya. Paragraf demi paragraf berikut ini pun berdasarkan cerita Pak Pangat.

Pembangunan tribun keliling Tambaksari itu sebenarnya mulai 1962. Saat itu Ir.Sutami baru saja terkenal di seluruh dunia karena penemuannya tentang pondasi ‘Cakar Ayam’. Tambaksari adalah stadion yang pertama kali menggunakan pondasi tersebut. Namun karena dana, pembangunan itu pun mangkrak dan tribun hanya berdiri tak sampai dua meter saja. Saat itu tempat duduk di tribun masih berupa kayu.

Jakarta yang dinilai belum kondusif usai G30S/PKI membuat Presiden Soeharto memindahkan PON 1969 dari Jakarta ke Surabaya. Pembangunan Tambaksari pun diteruskan. Tribun kembali dipugar, namun pondasi cakar ayam dan tanah gundukan tetap dipertahankan. Tempat duduk dari kayu diganti dengan tembok. Karena panasnya Surabaya, ditanamlah pohon-pohon Angsana di tanah gundukan tribun tadi agar memberikan keteduhan bagi penonton di stadion. Sebab, konsep stadion yang kemudian diberi nama Gelora 10 Nopember ini memang hanya bagian tribun utama yang diberi atap.

Beberapa tahun kemudian, pohon-pohon Angsana tadi kian tumbuh. Pergerakan akar dari pohon-pohon tersebut membuat tembok tribun retak-retak. Takut tribun roboh, pohoh-pohon itu pun diputuskan untuk ditebang atas perintah seorang pimpinan baru yang kebetulan juga bernama Supangat. Percaya atau tidak. Ada hubungannya atau tidak, Supangat yang pimpinan ini akhirnya jatuh sakit hingga meninggal dunia beberapa hari setelah pohon ditebang.

Setelah kejadian itu, pohon-pohon yang sudah ditebang tadi dibiarkan tumbuh. Selain yakin kalau akar yang sudah bertahun-tahun itu telah menancap di bawah tribun, dan tidak akan menimbulkan robohnya tribun, para pengurus Gelora juga yakin kalau pohon itu ada kaitannya dengan kematian staf pimpinan baru tadi. Pohon-pohon itu pun dilestarikan hingga saat ini.

Percaya atau tidak, terserah Anda menyikapinya. :P

Sebarkan!Share on Facebook16Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Leave a Reply