Yang Nilai Tawar

Secara pribadi hambok sumpih saya tak menentang keberadaan Buzzer. Sah-sah saja. Kalau memang sudah rejekinya dari Tuhan lewat situ, masak kita mau menentang? Sama aja dengan nentang yang ngasi rejeki juga doms? Toh MUI juga belum mengeluarkan fatwa haram. Jadi, kenapa perlu ditentang? Ditawarin jadi buzzer saya pun mau, asal situ mau dengan nilai tawar saya.

Oke jadi gini, dengan melihat kinerja beberapa teman Buzzer akhir-akhir ini. Saya merasa ada beberapa hal yang setidaknya harus diluruskan. Bagi saya, para pembuat kata kreatif untuk membantu campaign sebuah produk itu saat ini terlalu gampang ngeiyain pesanan. Betapa mereka hanya memandang berapa mereka dibayar per twit, tanpa memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi nilai lebih dari dirinya atau haknya, dan juga followernya. Teman-teman ini kehilangan nilai tawar yang ada pada dirinya. Banyak yang terlena, karena pekerjaan ini paling mudah dan menggiurkan. Hanya dengan merangkai kata, pundi-pundi ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir ke rekeningnya.

Ada banyak contoh twit-twit teman-teman yang saya maksud di atas. Campaign-campaign salah kaprah dari para agency juga membuat teman-teman Buzzer ini tak mau jeli. Smart phone anti air yang maksudnya tahan di kala hujan malah dipake berenang trus di-twit pict-in. Dan lain sebagainya. Kali ini saya mau main nomention saja untuk contoh twit-twit teman-teman tadi. Daripada nanti dikira mencemarkan nama baik dan harga buzz mereka turun. Saya masih jaga pertemanan lhooh. Oke, saya hanya ambil contoh akun @infomalang ini saja. Maaf untuk akun yang twitnya saya skrinsyutkan ini. Karena ini memang sebenarnya akun publik dan sya merasa perlu mengkritik.

Dari twit di atas dapat dilihat, ada kesalahan di sini. Dua kata menjadi kunci, Malang dan Gue. Sepintas terlihat, si admin hanya copas pesanan dari si pembayar. Mereka mengabaikan nama Malang dan kultur yang disandang di akunnya. Di Malang, Anda akan dicap sok-sokan nJakarta, kalau Anda pakai kata ‘gue’ untuk pengganti ‘saya’ dan ‘aku’. Karena bahasa sehari-hari Malang lebih banyak menggunakan ‘koen’, ‘kowe’, untuk bahasa teman sederajat, atau yang biasa disebut ngoko. Atau kadang lebih halus sedikit orang Ngalam menggunakan ‘sampeyan’ atau ‘umak’.

Kalau boleh lebih jauh dan lebih nyinyir tentang per-Buzzer-an, saya sepakat dengan teman-teman yang menyebut kalau twit buzzer sedikit banyak sama halnya dengan menjual teman sendiri. Analogi teman-teman ini tepat juga sih. Follower sejatinya adalah teman dan orang lain yang ingin menjadi teman. Dengan jumlah teman dan memanfaatkan reaksi dari teman, si buzzer berusaha mendapatkan uang. Jahat kan?

Saya sih sepaham dengan teman-teman Buzzer yang bersedia menyisipkan hashtag khusus, di antaranya #iklan #adv. “Dengan hashtag itu, para follower tahu kalau twit kita sedang dibayar. Untuk meneruskan klik link atau hashtag campaign, kita serahkan pada mereka. Menarik tidak tergantung mereka. Yang penting mereka sadar kalau kita tak menjebak mereka,” kata salah seorang teman.

Ya, teman-teman seperti ini menunjukkan betapa kita sebenarnya punya nilai tawar. Dalam deal-dealannya dengan agency, mereka tak hanya memandang nilai uang. Mereka tetap meminta hashtag #iklan #adv dipasang kalau ingin menggunakan jasa mereka. Salut.

Menurut saya, dengan agency menawarkan kita untuk menjadi buzzer, setidaknya mereka tahu kita punya sesuatu dan mereka membutuhkan itu. Kembali ke kitanya sendiri, mau nggak sesuatu yang kita butuhkan itu kita lepas begitu saja tanpa mengindahkan keberadaan atau mengorbankan orang lain dan teman kita.

Saya masih yakin, banyak teman masih akan bereaksi meski ada hashtag #iklan #adv. Baser independen dengan sedekah RT masih banyak bertebaran di time line kok.

Untuk membeli atau sesuatu saja kita masih bisa nawar. Masak ke agency yang jelas-jelas butuh kita masak kita nggak bisa nawar? Kalau saya sih, ambil contoh di foto ini.

Foto ini dicandid dengan pffft banget oleh @iwnjw

Foto ini dicandid dengan pffft banget oleh @iwnjw

Misal mbak-mbak SPG ini sudah punya harga tetap saya masih bisa nawar dengan hal lain. Misal saya tawar halus, “bonus lighter ya,” atau tidak “saya mau beli asal tukeran pin BB ya.” Ya, karena seperti si katrok bilang, jodho adalah tujuan dan follower hanyalah bonus! Salam :D

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

9 comments

  1. Alit says:

    Tenan candid kuwi fotone, kethok lek rung adus.

    Ngomongke Buzzer? yen duite sithik ya nyapo kudu mikirne kreatip, urusane seng mbayar to ya.

    *ngikik*

  2. Indah Juli says:

    Kalau kagum mbok yo bilang, Sum, jangan dipandangi saja :)
    jawaban serius: lagi berusaha di setiap twitt yg dibayar pakai #adv atau #ad
    halah, kayak buzzer aja aku:D

Leave a Reply