Yang Sindiran Eduardo Galeano untuk Bangsa Indonesia

Indonesia ternyata sempat dipotret begitu manisnya oleh Yang Mulia Eduardo Galeano. Penulis maestro -yang menurutku- guru besar sejarah dunia itu sempat menyelipkan bangsa ini dalam buku rangkuman sejarah dari berbagai belahan dunia: “Mirrors, Stories of Almost Everyone”.

Dengan gaya khasnya; ringkas nan sinis, Galeano memang mengajak pembaca buku terbitan tahun 2009 ini untuk bercermin kembali seraya bertanya-tanya dengan diri kita sendiri. Dan, Indonesia disindirnya sebagai bangsa yang pemaaf dalam tulisan berjudul “Crime Pays” (yang kemudian saya terjemahkan dengan “Ganjaran Kejahatan”) terkait kekejaman Soeharto.

Memang, penulis asal Uruguay yang meninggal 13 April 2015 lalu ini menyinggung Soeharto, Amerika, hingga media: TIME, dalam tulisan di buku ini. Namun yang saya tangkap adalah bahwa betapa pemaaf dan pelupanya bangsa kita ini. Terlalu mudah melupakan dan mengampuni, meskipun “Menolak Lupa” kerap sekali didengungkan di sana-sini.

Itu yang saya tangkap. Jikalau Saudara ingin mencari tangkapan lain, monggo saja. Silakan Saudara simak saja hasil terjemahan terkait tulisan Galeano ini.

                                                                Ganjaran Kejahatan
Di akhir dari tahun-tahun kekuasaannya, Jendral Soeharto tak bisa mengamankan jejaknya; baik dari korbannya atau pun uangnya.

Ia memulai karirnya pada 1965 dengan membantai komunis di Indonesia. Berapa banyaknya? Tak ada yang tahu. Tak kurang dari setengah juta, mungkin lebih dari sejuta. Sekali militer mengeluarkan lampu hijau untuk membunuh, siapa pun yang tengah bersama sapi dan ayam-ayamnya, yang sering diinginkan oleh tetangganya itu, tiba-tiba dicap sebagai komunis yang layak untuk dijerat.

Duta besar AS, Marshall Green, menyampaikan “simpati dan kekaguman dari pemerintahnya atas apa yang dilakukan tentara”. TIME melaporkan bahwa mayat-mayat menghentikan arus sungai, tapi malah merayakan kejadian ini sebagai “berita terbaik dalam beberapa tahun belakangan”.

Beberapa dekade kemudian, majalah yang sama mengungkapkan bahwa Jenderal Soeharto memiliki “hati yang lembut”. Pada saat itu, tak terhitung sudah yang mati karenanya, dan siap untuk mengubah surga Pulau Timor menjadi kuburan.

Dana simpanannya tak diabaikan meskipun kala itu ia dipaksa untuk mundur, setelah lebih dari tiga puluh tahun melayani negaranya.  Abdurrahman Wahid, penggantinya sebagai presiden, memperkirakan keuntungan pribadi Soeharto setara dengan seluruh hutang Indonesia kepada International Monetary Fund dan Bank Dunia.

Kita tahu ia senang Swiss dan menikmati berjalan sendirian di sepanjang jalan Zurich dan Jenewa, tapi ia tak pernah disidik untuk mengingat-ingat dengan tepat di mana ia meninggalkan uangnya.
Di tahun 2000, tim medis yang memeriksa Soeharto secara keseluruhan dan menyatakan bahwa ia secara fisik dan mental tak cukup sehat untuk berdiri di pengadilan.

Ah! “Menolak Lupa” hanya slogan semata.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply