Yang Timnas U-23 Jeblok? Salahkan Syamsir Alam!

Timnas U-23 jeblok di SEA Games 2013. Akhirnya kejadian juga. Meski keterpurukan Garuda Muda ini sudah diprediksikan jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Myanmar, saya yakin kebanyakan dari kita akan tetap mencari siapa yang salah.

Sambil mengepulkan asap rokok, sambil scrolling timeline, hingga pas pup pun kita bolak-balik kata-kata ini. “Siapa”, “yang”, “salah” dan “ini”. Padahal diutak-atik pun maksudnya tetaplah sama.
“Siapa yang salah ini?”
“Ini yang salah siapa?”
“Yang ini salah siapa?”
“Salah siapa yang ini?”
dan seterusnya.

Memang, mencari kesalahan itu bagus juga. Agar kita dapat mengevaluasinya demi yang lebih baik ke depannya. Tapi, akan kelihatan naif juga karena kesalahan yang ditemukan nantinya bakal berujung ke sistem sepak bola kita dan federasinya. Itu melulu disalahkan tanpa pernah ada maksud mencari tahu bagaimana ikut membenarkannya.

Meski Andik Vermansyah bermain individu, Egi Malgiansyah akurasi pass-nya menurun dan segala aspek dari pemain, biasanya orang yang pertama disalahkan adalah pelatih. Dalam hal ini Rahmat Darmawan (RD). Dia lah pelatih yang sebenarnya mendapatkan cap terbaik di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Pelatih penggenggam rekor dua juara dengan dua tim berbeda di Liga Indonesia itu harus menjadi pesakitan ketika dua kali memegang Timnas U-23 di dua SEA Games gagal menuai prestasi.

Apa yang salah dari RD?
Pertanyaan itu pasti akan berputar-putar di kepala kita. Jawabannya kemudian, “RD nggak bisa taktik, ngandalkan teknik. Nggak bisa memilih pemain, like and dislike dst.”
Sudah ketemu kesalahan RD dan dikupas tuntas, biasanya Indon seperti kita ini kemudian menyalahkan sistemnya. Persiapan mepet, pemain jadi kurang jam terbang bla bla bla menjadi fitur pelengkap cacian kita hingga kemudian menyalahkan PSSI atau BTN yang sudah menunjuk RD. Kita habisi federasi yang nggak pernah bener di mata kita itu. Sampai Timnas U-19 juara model apapun, PSSI akan selalu salah di mata kita.

Syamsir Alam (c) Bola.Kompas.com

Lantas siapa yang salah?
Nah pertanyaan itu yang saya sendiri kesulitan menemukan jawabannya. Alasan yang logis, tematik, sampai dirumuskan pun, saya susah nemuin jawabannya. Daripada nggak ada yang disalahin saya memilih Syamsir Alam untuk disalahkan.
Kenapa Syamsir? Dia kan sudah kecoret. Ya karena dia yang sering disalahkan. Dan kemudian saya balik nanya, “Kenapa juga kalian selalu nyalahin Syamsir?” Cengengnya dia di Twitter kerap membuatnya dijadikan bahan bully. Padahal perilaku katarsis (upaya melepaskan diri dari ketegangan atau tekanan) memang kecenderungan dari Twitter.

Kicauan Syamsir yang disalahkan itu pun tak jauh beda dengan selebtwit yang kalian follow. Mereka mengeksplorasi kesedihan dengan tiga menu utama; galau, LDR dan jomblo. Selebtwit benar, Syamsir salah.
Padahal yang salah kita sendiri. Kita yang terlalu berekspektasi tinggi karena Syamsir cukup lama di klub-klub luar negeri. Begitu melihat permainannya langsung, beribu kata kecewa terumpat. Harapan tinggi berujung kekecewaan lah yang membuat Syamsir salah. Ekspektasi itu ternyata dari kita yang selalu menganggap sepak bola dan apapun dari luar negeri lebih baik dari negeri kita sendiri.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+5Email this to someone

2 comments

Leave a Reply