Yang 24 Jam Bersama Gaspar

Di kursi kereta Lodaya yang berangkat dari Bandung, seorang pemuda dengan wajah lumayan dapat poin enam, terlihat berganti-ganti mimik kala ia membalik halaman demi halaman dari buku di atas silang kakinya yang berjudul, “24 Jam Bersama Gaspar”.

Rona dan ekspresi tertegun, senyum-senyum sendiri (eits jangan salah, ini bukan gila. Justru ini adalah perwujudan dari perasaan terhebat manusia. Ada berjuta kenangan yang ikut terpancar keluar hanya karena kita senyum-senyum sendiri), tertawa lepas, geregetan, dan seringkali mengumpat — baik dalam rangka membenarkan atau malah menyalahkan diri sendiri dengan kalimat semacam, “kenapa aku tidak kepikiran itu selama ini, ya?”–,  dan beragam ekspresi wajah lainnya.

Sesekali wajahnya terlihat aneh sedikit memonyongkan bibir dan meletuk —..menirukan suara gelembung permen karet yang pecah dengan menempelkan lidah ke dinding atas mulut lalu dengan cepat melepasnya..–. Letukannya pelan, tertahan, sambil menutupi wajahnya dengan buku, manggut-manggut membenarkan bahwa, “Meski letukan pada umumnya hanya menghasilkan suara monoton, tetapi aku bisa membayangkan banyak nada di kepala”.

Fragmen interogasi Tati S Abdillah sebagai saksi di hadapan polisi penyidik yang hadir menyisip di tiap bab buku itu membuat ia terbahak yang lalu dibalas oleh penumpang di sampingnya dengan ekspresi terganggu. Pemuda itu kemudian beranjak dari kursinya dan acuh tak acuh dengan penumpang di sampingnya. Dengan menggeleng-gelengkan kepala sembari memukul-mukul bagian halaman dari buku itu dengan telunjuknya, ia berjalan ke arah gerbong makan dan memesan kopi di sana.

Sepenghabisan tiga-empat halaman buku dengan nama pengarang di bawah tertulis Sabda Armandio itu, kopi datang. Si pemuda kemudian beranjak ke pintu kereta, merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus Marlboro putih.

Melihat gelagatnya, si pemuda seperti terbiasa dan hapal betul dengan rutinitas kereta itu. Ia seolah tahu di mana stasiun perhentian yang cukup untuk menghabiskan satu-dua batang rokok dan segelas kopi, apalagi dengan buku yang ingin dihabiskannya malam itu juga.

Kereta berhenti di Stasiun Cipeundeuy, di smooking area, si pemuda ini kembali asyik dengan buku bergambar sampul seorang pemotor dengan jaket bergambar Liong di bagian belakangnya itu. Kembali ke kursi kereta pun, ia belum mau lepas dengan buku setebal 228 halaman itu.

Sebagai pemuda yang masih kerap terpercik ajakan pemberontakan, entah protes atau kritikan, buku itu memang cocok untuknya. Rebel. Sebut saja langkah kuda S yang dilakukan Wan Ali di buku itu,“…langkah L itu sengaja diciptakan orang-orang kafir untuk menyisipkan paham Liberal,” atau kritikan tentang cerita detektif, cerita pendek di koran, “sebab belakangan cerita pendek di koran semakin tidak masuk akal”.

Dan karena kalimat di atas itu pulalah, si pemuda ini sempat terjebak. Jika cerpen makin tidak masuk akal, maka novel lebih masuk akal dan lalu diketikkannya nama-nama di novel itu, “Budi Alazon” dan “Arthur Harahap” dalam kolom pencarian Google.

“Ini ada manggung bareng Slank, dan Bongky malah hadir nyaranin bikin studio. Siapa tahu memang Budi benar adanya~,” gumam si pemuda meski ia tahu betul batas antara real dan fiksi, serta sefiksi-fiksi apapun sebuah novel tetap membutuhkan riset untuk setingnya. (Dan, belakangan diketahui hasil googling si pemuda lebih diarahkan ke kata kunci “Budi Amazon” serta Arthur ke blog si penulis itu sendiri. Siyal!)

Adalah wajar jika pemuda ini terjebak dan terlihat beragam reaksi di wajahnya. Toh novel itu memang sudah dinobatkan sebagai Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Sudah lengkap, berkritik, berpengetahuan dan berwawasan mulai motor, steampunk hingga istilah kedokteran (ingin sekali kutuliskan istilah kedokteran tentang penyakit jantung itu di sini tapi takutnya malah spoiler, ya mending tak usah, toh tak mengapa), ilustrasinya oke, serta tentu saja lucu; mulai yang geregetan macam fragmen interogasi hingga yang receh macam lagu plesetan Ita Purnamasari “walau ditimpuk batu”, eh inti cerita utama yang tragis itu masih tetap tertangkap juga.

“Cake!” nama band itu diserukan si Pemuda di kereta itu dalam hatinya. Ia teringat akan lagu “Friend Is A Four Letter Word”, “She’ll Come Back To Me”, “Never There”, “Excuse Me, I Think I’ve Got A Heartache” dll dari Cake. Lagu-lagu bertema sedih dan lirik tragis, tapi tetap dibawakan dengan musik, ketukan, irama dan nada yang tetap ceria. Begitulah novel Gaspar itu menurutnya, kisah sangat tragis tapi ditulis, dipikirkan dan disusun (simak bagaimana pengaturan subyek dalam awalan dari bab 2-7) dengan me-nye-nang-kan~

Dilihat dari rona wajah dan ekspresi si pemuda sebelum ia memasukkan bukunya ke dalam tas ketika kereta sudah masuk area jogja di waktu imsya’ itu, buku ini memang sangat bagus. Atau nyaris sempurna malah.

Dan, jikalau si pemuda menuliskan resensi dari novel Gaspar ini, mungkin dia akan enggan karena resensi juga diharuskan menyebutkan kekurangan. “Sapa u atur-atur hidup wa,” atau “wa tak bisa membalas dengan karya kok mau cari kekurangan karya orang,” mungkin begitu kata si pemuda.

Tapi tidak, si pemuda tetap menemukan satu yang menurutnya kurang pas saja gitu dari novel ini. Halaman 127, “Njet membakar rokok yang sudah terselip di bibir Kik”. “Ini remeh-remeh sedap sih. Sebentar, Kik tengah hamil, kan? Alangkah dan sekiranya… ah sudahlah~,” si pemuda urung menjelaskan.

Terakhir, dan ini perlu Anda ketahui, pemuda dengan wajah lumayan dapat poin enam dengan buku bertuliskan “Cerita Detektif” dalam sampulnya tapi ngga detektif-detektif amat itu adalah saya. Iya, saya. ‘Kan saya emang masih muda. Gimana sih. Hehe.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

One comment

Leave a Reply