Yang AL Fatihah Sang Pembuka Juara

Al Fatihah. Itu yang digemakan Bobotoh sebelum peluit kick-off final ISL 2014 di Stadion Jakabaring, Palembang, hari ini dua tahun silam. Bukan chant, bukan nyanyian, bukan pula teriakan merendahkan lawan. Final itu dibuka dengan surat pembuka Alquran.

Bobotoh saat final ISL 2014. Photo by Zen RS

Bobotoh saat final ISL 2014. Photo by Zen RS

Momen Al Fatihah digemakan dengan telanjang dada di tengah kibaran bendera dengan logo Anggur Cap Orang Tua itu yang akan selalu terkenang sampai saat ini, setidaknya bagi saya. Untuk kali pertamanya terpampang jelas di mata saya sebuah pergerakan massive alam bawah sadar dilakukan sebagai bentuk pernyataan bahwa Tuhan bersama suporter sepakbola.

Ya, meski digemakan dengan penuh kesadaran tanpa pingsan, bagi saya itu memang alam bawah sadar yang bekerja.

Pertama, itu murni serentak dan seketika tanpa sadar. Jika sadar dan mengedepankan logika, mereka tentu akan sepaham dengan apa yang pernah diungkapkan mendiang Johan Cruyff yang kurang lebih selalu berpedoman bahwa: Tuhan tak ada sangkut pautnya dengan penentuan hasil sebuah pertandingan sepakbola. Atau –menukil dari tulisan Zen– Tuhan netral di lapangan sepakbola, jadi jangan terlalu banyak berdoa.

Menurut Cruyff, jika Tuhan ikut mengatur-atur dan menentukan pertandingan sepakbola, sudah pasti semua pertandingan akan berakhir seri. Sebab, Dia yang Maha Adil. Segala kebetulan, ketidak-sengajaan di lapangan –yang dianggap takdir Tuhan– sebenarnya masih bisa ditarik dengan nalar dan logika. “Coincidence is logical,” kalimat singkat pesepakbola asal Belanda itu dimentahkan oleh Bobotoh. Para suporter ber-Tuhan.

Kedua, jika memang bukan alam bawah sadar yang bekerja, tentu Bobotoh tak akan membawa-bawa Tuhan di partai final. Karena beberapa hari sebelumnya, mereka sukses mendukung PERSIB mengalahkan Arema di semifinal dengan mengusung misi: ‘melawan kemustahilan’. Hal yang mustahil saja bisa, apalagi hil yang mustahal?

Atau yang ketiga, jika Tuhan sudah menentukan dan menakdirkan, tentu Bobotoh juga akan memberi waktu kepada para Tuhan yang lain. Setelah pembacaan ayat suci Alquran, selanjutnya mungkin lagu Malam Kudus, atau hingga pembakaran dupa.

Tapi ini tidak. Alam bawah sadar yang bekerja, maka persetan logika. Tanpa sadar, entah siapa yang memulai dan jelas tak ada komando, Bobotoh larut dalam penggemaan bacaan wajib pelaksanaan kewajiban sebagai muslim itu.

Lalu Tuhankah yang menentukan PERSIB juara saat itu? Kalau iya, Tuhan yang manakah? Dua pertanyaan itu hanya Anda yang bisa menjawabnya di hati masing-masing. (Jangan jawab di sini, akan saya hapus)

Namun, percaya atau tidak, dan ini pasti, suporter atau Bobotoh ikut menentukan dalam perwujudan juara itu.

Sebarkan!Share on Facebook7Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

One comment

Leave a Reply