Yang Allah Dekat di Nadi Kita

Ada sebuah joke sindiran mengenai speaker yang keras saat adzan. “Kenapa Islam kalau adzan mesti pake pengeras suara sih? Karena Islam selalu menganggap Tuhannya jauh,” begitu.

Memang adzan sebenarnya bukan untuk memanggil Tuhan. Hanya penanda dan panggilan bagi manusia. Tapi, kalau dipikir logika kasar, ada benarnya juga sih joke sindiran tersebut. Hihihi..

Tapi saya tak mau membahas pengeras suara, karena sudah jadi bahan rasan-rasan dan nyinyir teman-teman di Twitter. Hihihi. Saya hanya ingin membantah joke tersebut di postingan ini. Tapi nggak pake dalil ndaqi’-ndaqi’. Dengan tips simple dari guru ngaji saya dulu aja. Beliau saat itu menjelaskan maksud dari “Tuhan itu dekat, sedekat urat nadi kita“.

Perintah Al Quran jelas sekali bahwa kita harus Iqra’, membaca,”  kata beliau. Menurutnya, meski dijabarkan panjang lebar seperti membaca situasi, membaca tanda-tanda alam, membaca isyarat, membaca firasat, pada dasarnya membaca tetaplah membaca. Ada sebuah tulisan yang menjadi obyek dari kata itu.

foto diperagakan oleh model :P

Menurut beliau, clue-nya gampang kok untuk menjelaskan Tuhan itu dekat. Nadi itu dekat dengan tangan. Allah ada di tangan kita. “Sekarang ibu jari dan telunjuk, satukan hingga membentuk lingkaran. Baca yang ada di tangan kalian,” ujar beliau sambil senyum.
Kami para murid yang duduk bersila cuma manggut-manggut membenarkan. Yup, (seperti yang tertera dalam foto), bentukan tangan itu sebenarnya lafadz Allah dalam tulisan Arab. Kelingking adalah huruf alif, jari manis dan jari tengah adalah dua huruf lam yang disambung dan perpaduan ibu jari dan telunjuk adalah huruf ha.

Guru ngaji yang tak pernah meminta bayaran dari sang murid kecuali shalat rutin itu kemudian menjelaskan tanda-tanda lainnya tentang Allah di tangan kita. Kali ini di telapak tangan. Guratan garis di telapak tangan itu jelas pertanda juga lho. Tangan kanan membentuk angka 18 (huruf arab) dan telapak tangan kiri membentuk angka 81. “Kalau dijumlah jadi 99, itulah Allah, Asmaul Husna,” tegas guru saya lagi-lagi sambil tersenyum.

Dan hanya Allah lah yang tahu kebenarannya. Semua kembali ke kita. Saya sendiri sih yakin kalau itu petunjuk. :D

Sebarkan!Share on Facebook9Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

9 comments

Leave a Reply