Yang Baca Buku

Baru siang tadi tahu kalau hari ini Hari Buku Sedunia. Harap maklum saya nggak begitu mengikuti dengan seremonial tahunan hari ini hari itu hari apa lah. Lha wong ulang tahun adik saya aja saya sering lupa.

Buku. Hmmm.. beberapa bulan ini barang satu ini memang mulai dipaksa dekat dengan saya. Ya, dipaksa. Yang memaksa saya, sebut saja namanya Zen. Entah itu nama samaran atau bukan. Yang pasti, Zen bukan Bunga nama samaran.

Berbagai cara dilakukannya biar saya mau membaca buku dan kemudian membeli buku. Mulai mencari bahan tulisan sampai mereview buku. “Biar kamu beli buku,” kata Zen.

Awal mula saya berbincang dengan Zen yang dibahas juga buku. Dia juga udah bisa nebak kalau saya nggak suka baca buku. Nasihatnya, “Baca buku dong,” awalnya saya jawab sesuai dengan apa yang saya rasakan. “Aku nggak suka baca buku. Semakin tebal sebuah buku, maka semakin membosankan menurutku. Apalagi buku berbahasa Inggris seperti di sini,” jawab saya.

Saya akui, saya suka membaca. Baik baca tulisan, baca situasi, baca apa yang akan terjadi, ataupun membaca arah pikiran melalui rona wajahmu. Yang terakhir khusus wanita, begitu.

Tapi tidak untuk membaca buku. Saya tidak terlalu suka. Maklum saya kaum modern, lebih suka membaca di monitor. Lebih efisien, dengan satu jari saja kita bisa membuka halaman berikutnya.
Kalau buku, minimal butuh dua tangan untuk memegang dan berpindah halaman. Tidak cukup dengan satu jari saja. Belum lagi, membaca buku kita butuh penerangan. Ada ritual menyalakan lampu saat membaca sambil tiduran malam-malam. Terus yang ada akhirnya kita malah ketiduran dan lampunya tetap nyala. Sebagai manusia yang selalu hemat energi, saya merasa hal itu merupakan pemborosan. Kasian juga teman-teman yang hore-horean seremonial tahunan earth hour juga, kan?

Dipaksa itu emang nggak enak, tapi kalau udah tahu rasanya, pasti akan ketagihan. Itu yang saya alami sekarang.

Berawal dipaksa Zen, saya jadi mulai rajin baca buku. Ya karena saya bisa menemukan banyak sekali manfaatnya. Terutama menemukan ide tulisan. Dari kata pengantar sebuah buku saja saya bisa mendapatkan ide tulisan sebuah essai lho.
(Salah satu buku kumpulan cerpen yang saya beli. Ini buku asyik lho)

Terhitung selama tiga bulan terakhir saya berguru sama Zen dan temen-temen di Panditfootball, yang rata-rata memang kutu buku, setidaknya ada sembilan buku yang saya beli. Empat buku sepakbola, dua buku Pramoedya Ananta Toer dan sisanya buku kumpulan cerpen. Belum lagi beberapa ebook baik berbahasa Indonesia atau berbahasa Inggris. Semuanya belum saya baca sampai khatam, tapi saya akan berusaha menghabiskan lembar per lembar. Semoga!

Terimakasih Zen dan selamat hari buku :)

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone
This entry was posted in Curhat.

One comment

  1. HeruLS says:

    Eh, baca buku juga butuh keikhlasan lho.
    Tapi, kalau bukunya beli sendiri, kadar keiklhasan itu tentu saja semakin rendah.
    #eh
    Selamat hari buku.

Leave a Reply