Yang Balikan

Apa pun yang kau tanyakan, balikan jawabku. Apa pun kalimatmu, balikan kalimatku.

“‘Kamu sudah pernah ada itu lebih dari cukup, nggak bakal kembali pun nggak apa apa.’ Inget pernah bilang gitu? Ini kertasnya masih kupegang,” kamu berkilah membantah di BBM.

Ya, kuakui, aku pernah menuliskannya. Kutulis, karena aku tak pernah bisa -berani lebih tepatnya- menyampaikannya secara langsung. Ya karena aku memang tak ingin luka yang pernah ada menyeruak kembali. Menyembul untuk menunjukkan keberadaannya, bahwa ia masih ada.

“Kenapa sih yang jadi orientasi kamu cuma balikan?”.
Balikan. Kata itu memang jadi tangkisan utamaku. Tangkisan karena aku tak mau menyebutnya sebagai senjata. Aku bertahan, bukan menyerang. Aku menangkis atas sikapmu akhir-akhir ini, yang maaf kalau harus kubilang, sekadar pelarian dan cari perhatian.

“Aku barusan stalking twittermu. Tapi yang ada cuma sepakbola. Aku kecewa,” ketikmu pada suatu ketika.

Atau tiba-tiba pada suatu kesempatan, kalimatmu tiba-tiba datang “Stalking twittermu ah.”

Duh, kalimat-kalimatmu itu amat tak penting untuk sebuah hubungan kita yang sekarang tak penting-penting amat ini.

Seenggaknya kamu bersyukur aku bersedia menjawab dan meladeni any conversation yang kau buka itu. Setidaknya kamu berterimakasih dengan cara menangkap dan memahami aku yang berusaha sedatar mungkin dalam setiap perbincangan kita. Datar, tidak dalam. Karena saat mendalam, kita akan bertemu kembali luka yang masih juga ada di dalam. Luka karena kita pernah saling melukai.

Sebaiknya kamu menangkap apa maksudku yang tiba-tiba ngechat dengan kalimat enteng namun sebenarnya tegas, “Eh-eh balikan yuk.”

Tegas karena langsung saja ke tujuan. Tanpa terlalu banyak basa-basi yang bertele-tele dengan berbagai ketebelece. Balikan ajakanku itu sekadar ingin mengajarimu, tapi tanpa menggurui.

Katakan saja kalau pengen balikan. Kalaupun kamu nggak pengen balikan dan cuma sekadar teman, ya maaf. Maaf kalau harus menempatkanmu di deretan akhir dari deretan yang kunamai teman.

Hidup adalah pilihan, dan kalau boleh, aku tak mau memilihmu jadi teman.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone
This entry was posted in Curhat.

One comment

Leave a Reply