Yang Basi Jika Azrul Berambisi di Perbasi

Musyawarah Nasional (Munas) Perbasi (Persatuan basket seluruh Indonesia) di Yogyakarta, Sabtu (14/03) akhirnya menjatuhkan jabatan Ketua Umum Perbasi pada Dany Kosasih. Azrul Ananda tak terpilih. Suara-suara sumbang pun mulai beredar di dunia maya dan kasak-kusuk terdengar seperti merintih. Malah hanya bikin mata pedih dan kuping perih.

Memang itu sebuah dinamika yang tak bisa dielakkan pasca ajang pilih memilih seperti itu. Tapi ada sebuah suara yang menggoda saya untuk ikut-ikutan bersuara sebagai pecinta basket Indonesia. Yakni suara yang menyebut kalau Azrul gagal dalam menaklukkan ambisinya.

Menurut saya yang jelas-jelas orang luar dari Jawa Pos Group, adalah basi kalau ada yang menyebut sang putra mahkota kerajaan Graha Pena ini sangat berambisi menjadi Ketum Perbasi. Sebab, level Azrul di mata saya sudah bukan lagi ada di perebutan ketua federasi salah satu cabang olahraga. Dia itu levelnya Menpora.

Benar kalau Azrul menjadi salah satu calon di pemilihan tersebut. Betul kalau dia sempat melontarkan kalimat multitafsir yang akhirnya terbias menjadi ancaman penghentian PT DBL selaku operator NBL Indonesia (Lha memang kontraknya 5 tahun dan berakhir tahun ini kok). Tapi saya sendiri yakin, ambisi menjadi Ketum Perbasi tidaklah ada di benaknya.
azrul
Saya sendiri sempat menyesalkan namanya ada di bursa calon Ketum Perbasi. Nalar saya waktu itu -dan juga bertahan sampai kini- Azrul ‘dicalonkan’. Dia didorong orang-orang lain untuk mencalonkan diri. Orang-orang yang sudah merasa nyaman dengan NBL yang dipegang PT DBL. Orang-orang yang mungkin juga ikut bersama Perbasi sekitar lima tahun lalu melacur pada Azrul agar DBL yang sukses menyelenggarakan liga basket level SMA sudi memegang liga basket profesional tertinggi di Indonesia. Dan, lahirlah NBL.

Dalam sebuah perbincangan dengan Azrul saya sempat menanyakan perihal alur yang terputus di basket Indonesia. PT DBL hanya memegang JrBL (level SMP), DBL (SMA) lalu meloncat ke liga basket profesional. Sementara di liga basket mahasiswa dipegang oleh yang lain. Sistem dambaan saya yang berkiblat ke Amerika -dari SMA untuk mendapatkan beasiswa kuliah lalu bermain di NCAA guna masuk sebagai pemain draft di NBA- belum terwujudkan.

“Ah kalau itu sebaiknya tanyanya ke Perbasi, Mas. Kalau saya yang jawab, wah nanti dikira gimana-gimana. Yang pasti kami (DBL) nggak mau memonopoli,” jawab pria yang karib disapa Ulik ini.

Keengganan Azrul tidak mencaplok semua jenjang liga basket Indonesia tersebut sudah jelas bahwa ia tak mau memonopoli basket. Ia kembali ke fokus utama DBL, membina dengan memberi wadah kompetisi untuk pemain muda sejak level SMP.
Nah! Monopoli aja ogah kok dibilang ambisi?

Kembali saya tekankan pendapat saya, level Azrul seharusnya bukanlah Perbasi lagi. Menpora.

Bukan cuma basket, Ulik juga punya passion di beberapa cabang olah raga lain. Balap sepeda oke, sepak bola bukan hal yang mustahil karena bapak dan korannya pernah ikut membesarkan Persebaya, Formula 1 (F1) juga paham betul. Saya malah beberapa kali mendapatinya fokus streaming F1 di pinggir lapangan basket.

“Gilak, itu butuh 12 trilliun. Saya belum sanggup. Tapi kepingin juga sih F1 bisa main di Indonesia,” jawab Azrul saat kami selift bareng dan saya iseng bertanya tentang cita-cita mendatangkan F1 di Indonesia. Yah ketimbang kita-kita empet melihat Sentul dianggurin dari event internasional.

Mau berkecimpung di multi sport sudah Menpora banget kan?
Apalagi sudah punya GOR sendiri. Meski didesain untuk basket, DBL Arena juga sudah beberapa kali membuktikan kalau mereka memenuhi standart yang bisa digunakan kejuaraan cabang olahraga lain. Bahkan bertaraf internasional seperti bulutangkis Axiata Cup 2013 lalu.

Saya sangat yakin, tanpa memegang NBL pun, PT DBL dengan akan terus hidup, menghidupi dan menghidupkan (dengar-dengar akan menghidupkan sesuatu yang mati suri lagi di Indonesia). Manajemen dan kreatifitas yang selalu membuat kagum dan segan beberapa bos saya dulu.

Eiya lho, bos di kantor lama bukan cuma mengijinkan tapi malah memfasilitasi saya untuk mampir liputan NBL, meski target liputan utama saya sepak bola. Bos-bos juga pernah berinisiatif mengundang Mas Ulik untuk sharing tentang media ke kantor saat NBL Preseason di Malang. Tapi nggak jadi, sepertinya big boss segan waktu itu.

Kembali ke Perbasi, terpilihnya Dany Kosasih saya juga cukup senang. Ini prestasi tersendiri. Akhirnya ada ketua federasi olahraga yang berasal dari praktisinya langsung. Biasanya kalau bukan jabatan hibah dari partai ya pensiunan militer yang mencari-cari jabatan karena post power syndrome.

Buku “Fundamental Basketball, First Step to Win”, melahirkan klub dari unit kegiatan mahasiswa basket di kampus, adalah beberapa bentuk perhatian Dany pada basket Indonesia. Saya sendiri selalu teringat momen semangat pantang menyerahnya di sebuah pertandingan. Dengan hanya enam pemain yang siap karena kesalahan teknis, Dany tetap bersedia bertanding dan akhirnya menang.

Semoga semua legawa dan tak ada perpecahan besar pasca pemilihan Ketum Perbasi ini. NBL tetap berjalan, Perbasi mau berubah secara manajemen dan tak melulu tergantung untuk menunggu untung. Ikut nyumbang lah Pak, Bu. Basket Indonesia bukan cuma Timnas.
Kalaupun ada perpecahan, yah semoga bersifat kompetitif demi kemajuan basket Indonesia.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply