Yang Blue Is The Warmest Colour (2013)

Saudara sudah menonton Spectre? Kalau sudah, resensi film ini adalah satu jawaban dari pertanyaan yang akan terbersit di benak saudara setelah menonton James Bond itu; “Siapakah Bond Girl (Lea Seydoux) ini?”. Atau “Dia main di film apa saja sih sebelumnya?”.

Lea tampil berani di film garapan sutradara Prancis keturunan Tunisa, Abdellatif Kechiche, ini. Berani memainkan peran sebagai lesbian dan –tentu saja- berani buka-bukaan. Bukan cuma teman beliungnya saja yang berkali-kali dipampangkan di sini, itunya dan anunya kerap hadir di layar. Maklum film Prancis.

Tapi anggaplah itu bonus. Secara tema dan cerita, ini film #rekomendeath juga. Sudah menang penghargaan Palme d’Or di Festival Film Cannes 2013.

blue_is_the_warmest_colour

Blue Is Te Warmest Colour adalah film bertemakan LGBT. Ceritanya tentang pencarian jati diri, hasrat seksual tepatnya, dari seorang wanita –karena kegadisannya sudah terenggut di menit ke 20-an, maka saya mengurungkan niat untuk menuliskan “gadis”, meskipun diceritakan ia masih duduk di bangku SMA- bernama Adele (pemerannya juga bernama Adèle Exarchopoulos).

Adele sudah mencoba berhubungan seksual dengan Thomas (Jérémie Laheurte) namun ia belum merasa menemukan kepuasan. Ia malah bergairah ketika tiba-tiba dicium teman wanitanya di sekolahan.

Ia pun mulai merasa dirinya cenderung menyukai sesama wanita. Dan, Adele mulai mengembara mencari jati dirinya.

Dalam pengembaraan menemukan hasrat seksualnya itu, ia singgah di beberapa klub malam LGBT. Mulai gay hingga lesbian.

Di bar tempat para lesbian berkumpul itulah ia akhirnya berkenalan dengan Emma (Lea Seydoux). Seorang gadis tomboy, dengan rambut biru, yang pernah membuat hati Ema mak ser saat tak sengaja berpapasan di jalan.

Kisah asmara Adele dan Emma pun berlanjut. Bila hati sudah bertaut, bibir saling berpagut, kepuasan coba bersama direnggut, dan keduanya pun mengacuhkan burung perkutut.

Seiring dengan itu, konflik dan drama pun tersaji. Apalagi kalau bukan cap miring bagi penyuka sesama jenis. Lebih-lebih ketika Emma datang ke sekolah Adele, SMA Pasteur (ini di Prancis, bukan Bandung lho yah).

Background keduanya kaum hawa yang tak imbang, Adele anak sekolahan dengan segala keterbatasannya, sementara Emma seorang pelukis yang nyentrik dan bebas, membuat cerita film ini makin asik.

Plot yang begitu rapi akan mencegah Saudara untuk menekan tombol Forward atau Next di media player selama 179 menit dari durasi film itu.

Tanpa berpanjang kata lagi, karena hanya akan membuat tulisan ini menjadi spoiler, saya menyimpulkan film berjudul asli La Vie d’Adèle ini layak dinilai tiga setengah dari lima popcorn. Bisa jadi empat malah karena bonus adegan berani tadi.

Saudara bisa mengunduhnya di sini (dengan proxi, karena ini link Torrent dan banyak dicekal). Sementara subtitle Indonesianya bisa Saudara dapatkan di sana.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply