Yang Cerpen, “Ada Apa Dengan Cinta Satu Malam?”

Kopi di gelas Rangga belum lah habis. Baru lah tiga seruputan, dan ini kopi long black, bukan espresso yang satu tembakan sepeminuman saja. Tapi ketidaknyamanan tersirat di wajahnya yang angkuh, wajah yang hanya bisa terlihat nyaman jika ia tersenyum atau tertawa.

“Pindah tempat yuk,” ujar Rangga sembari menatap di sekeliling.
“Lho kenapa? Katanya aku dapat hadiah dan boleh milih tempat. Kamu nggak suka sama tempat ini?” berondong Cinta.
“Kan aku tadi sudah bilang. Aku suka sama keseriusannya. Tapi…”
“Kamu nggak suka kopi, atau sakit perut gara-gara kopi?”
“Yee, masak owner coffeeshop anti kopi?” senyum tipis memancing tersungging dari bibir Rangga.
“Ya bisa saja. Owner perusahaan rokok aja banyak yang nggak merokok. Mungkin sudah tahu keburukannya lalu tak merokok. Tapi mungkin nggak begitu juga sih. Hmm lebih tepatnya gini: Seorang pengusaha tak harus mengkonsumsi produk yang diciptakannya,” jelas Cinta.

Cinta kemudian menjelaskan dengan analogi lainnya. Seorang pria yang menjadi penemu dan pemilik perusahaan bra digital dengan fitur deteksi tangan dan alarm. Ada lima macam suara alarm di bra itu; rintihan keenakan, perintah untuk cepat langsung membuka tali di punggung, larangan untuk memasukkan tangan, suara teriakan minta tolong, serta perintah kasar untuk mengembalikan bra kepada pemiliknya. Kesemua alarm itu akan aktif jika sensor panasnya sudah merekam dua jenis tangan. Tangan si pemilik, tentu saja, dan tangan pria yang sudah disetujui oleh si pemilik bra, ada tombol persetujuan di sana.

Selain keamanan dan kenyamanan, bra ini juga menonjolkan sisi kesetiaan dalam jargon iklannya. Sensor panas hanya bisa menerima dua tangan, tidak bisa menerima orang ketiga atau bahkan mantan. Karena untuk mengganti salah satu tangan, maka data lama harus dihapus.

“Nyindir nih?” Rangga dengan tatapan sinis khasnya. Pria sensitif.
“Tunggu aku selesai ngomong dulu deh. Jangan fokus ke bra dan mantannya deh. Maksud aku, si pemilik perusahaan tadi kan pria, sementara yang diproduksinya sebuah benda untuk wanita. Masak iya, seorang cowok, hanya karena dia produksi bra, maka ia harus pakai bra juga?” Cinta tertawa renyah.

Kali ini Rangga ikut tertawa lepas sembari menatap meja lesehan yang hanya dihuni empat benda itu. Dua gelas kopi dan dua telepon genggam saja di meja. Tak ada asbak, atau wadah gula dengan sendoknya. Ia kembali teringat keinginannya untuk segera pergi dari warung kopi itu.

Kali ini Cinta mengiyakan keinginan Rangga. Namun tetap dengan beberapa pertanyaan yang semuanya tak bisa dijawab Rangga di tempat itu.

Dengan gerakan memutar-mutarkan telunjuknya ke meja, Rangga berujar, “Aku agak nggak pas dengan ini semua. Aku jelasin di tempat lain, kita cari makan dulu aja yuk.”

Keduanya kemudian pergi meninggalkan Klinik Kopi. Lalu pamit basa-basi ke Pepeng yang masih saja sibuk memberi cerita tentang kopi dan petani yang diberinya pelajaran cara menanam dan merawat kopi yang baik. Baik menurutnya.

Rangga menjalankan mobil rentalannya itu ke arah selatan, dan berhenti di perempatan tempat pertemuan antara Jalan Kaliurang dan Ring Road Utara. Detik di lampu merah menunjukkan angka 120 dan terus menghitung mundur. Pikiran Rangga juga berada di persimpangan dan harus memutuskan ke mana ia akan mengajak Cinta. Ke kanan ke arah Jalan Magelang guna ke Punthuk Setumbu, atau belok kiri ke arah Bantul guna makan Sate Klathak Pak Bari.

Sebenarnya Rangga bisa saja langsung memutuskan belok ke kanan untuk dua tujuan itu. Tapi suara lain di pikirannya mengatakan percuma. Kalau ke kanan ia akan bertemu perempatan lagi dan lagi. Dan ia hanya akan berpikir terus-terusan. Suara lain, kali ini berasal dari perut, berteriak protes untuk segera memutuskan.

Detik lampu merah masih di angka 20-an. Gerakan pixel merah menurun itu seperti puluhan kunang-kunang berbaris menari dan berirama. Ya! Kunang-kunang! Rangga seperti mendapat jawaban ke mana ia akan mengajak Cinta makan malam. Begitu detik itu berubah menjadi kalimat “TUNGGU SAMPAI HIJAU” yang berjalan berbaris ke kiri, Rangga memutuskan tak berbelok ke kiri atau kanan. Ia memilih jalan yang lurus, jalan yang didambakan banyak orang.

Rangga kemudian membelokkan mobilnya ke kiri pada lampu merah kedua, lalu berputar tiga perempat putaran di bundaran UGM. Pelan, ia menepi di sebuah warung tenda warna kuning dengan sablonan namanya, Bakmi Jumpa Pers.

“Nama warungnya asyik. Apa wartawan sering berkumpul di sini. Kalau di sini dibuat konferensi pers juga tak mungkin. Kecil gini tempatnya,” Cinta membuka pertanyaan setelah keduanya memesan dua bakmi jawa rebus dan dua teh panas.

“Kamu langsung nanya-nanya. Kayak jurnalis aja. Udah ketularan nama warungnya,” Rangga tertawa mengejek.
“Kamu lupa aku pernah kerja di majalah?”
“Iya majalah dinding. Yang cepet basi karena udah mau terbit,” keduanya sama-sama tertawa. Lalu hening seketika. Pikiran mereka menyelami ingatan-ingatan saat pertama jumpa.

Rangga lebih dulu keluar dari jeratan labirin ingatan dan kenangan mereka semasa SMA. Ia menjelaskan sekelumit tentang warung bakmi kecil yang hanya cukup untuk delapan hingga sepuluh orang itu. Dengan menyelipkan kata konon, Rangga mengatakan bahwa yang memberi nama “Jumpa Pers” kepada warung itu adalah Umar Kayam. Ini adalah warung bakmi jawa langganan dari novelis, cerpenis, dan budayawan yang cukup diidolainya itu.

“Entah. Mungkin dulu beliau sering janjian sama wartawan juga di sini. Toh memang lumayan dekat juga dari kampus tempatnya mengajar. Dan, aku yakin Kunang-Kunang di Manhattan itu juga terinspirasi di sini. Di belakang warung ini ada Rumah Sakit dan kamar mayat. Sementara kunang-kunang sering dimitologikan sebagai potongan kuku orang yang sudah mati,” tutur Rangga.

“Kok jadi horor gini sih,” Cinta mulai gemas. “Eh tapi aku baru tahu kalau kamu suka Umar Kayam, dia penulis, cerpen, novel, skenario. Sementara kamu kan puisi banget. Tak suka berpanjang-panjang dengan tulisan,” lanjutnya.

“Sebenarnya sama saja. Sama-sama tulisan hasil imajinasi. Puisi lebih banyak membuat orang bertanya-tanya guna memahami makna atau apa yang ingin disampaikan dari puisi tersebut. Dan, dari jawaban yang dicarinya itu seorang pembaca bisa bebas menginterpretasikan puisi itu. Sementara novel atau cerpen juga memancing pembaca mencari makna tulisan hasil imajinasi itu. Namun, cerpen dan novel lebih memberi alat bantu bagi pembaca untuk mencari jawaban itu dengan kalimat panjang dan penjelasan. Puisi kusuka karena lebih bebas. Bebas bagi penulis dan bebas bagi pembaca. Bebas tanpa ketergantungan alat bantu,” Rangga mulai memasang mimik serius.

“Karena puisi juga aku akan selalu mengenangmu Cinta. Kebebasan, tanpa bantuan, kemandirian. Dan itu juga yang pernah kukatakan kepadamu di dapur dulu.”

Cinta sontak mengulang kembali kalimat perdebatan kecil mereka di dapur rumah Rangga saat dia pertama kali ke sana. “Kalau semua bisa dikerjain sendiri, kenapa harus pakai pembantu?”

“Oh kalimat itu juga puisi? Lalu kenapa Umar Kayam?”

“Umar Kayam awalnya kusuka karena aktingnya sebagai Bung Karno di film G30S PKI dulu. Kau tahu sendiri kan, sebagai anak yang keluarganya sering dicap makar saat Orde Baru, Bung Karno adalah sang harapan dan penyelamat bagi kami.”

Seraya mengucapkan terimakasih, Rangga mengatur teh panas yang datang, menggeser satu gelas ke hadapan cinta. “Tahu tidak kenapa aku memilih ke Amerika, dan memilih New York?” Rangga berbalik tanya.

“Biar kita bisa LDR-an?” jawab Cinta asal-asalan sambil berusaha mendinginkan teh panas di hadapannya dengan tiupan.

“Aku ingin jadi satu dari seribu kunang-kunang yang dipandang Umar Kayam –dalam hal ini Marno- dari sebuah apartemen di Manhattan. Kumpulan cahaya lampu New York yang terlihat kecil bagai kunang-kunang yang mengingatkan Marno akan istri dan rumahnya. Aku, cahaya yang terlihat kecil, kunang-kunang yang selalu ingat dan mengingatkan akan Indonesia.”

Cinta hanya bisa tersenyum dan terlihat bangga. Bangga bisa mengenal, dekat, dan memiliki Rangga, meskipun kini pria itu sudah berlabel mantan dalam status hubungannya.

Bakmi yang dipesan pun datang. Di sela-sela seruputan mie demi mie, Cinta menagih janji penjelasan Rangga terkait sesuatu yang tidak pas di Klinik Kopi tadi.

“Oh itu. Aku apresiasi keseriusan si pemilik warung kopi tadi, ah siapa namanya tadi, ah dia lah pokoknya. Kesediaannya mengedukasi petani itu sangat bagus. Tapi begitu aku duduk, aku kecewa. Aku lihat di meja kita, meja lain dan tak ada gula.”
“Gula memang dilarang sama Pepeng. Rokok juga. Akan mengurangi rasa asli dan kenikmatan kopi itu sendiri, katanya.”
“Nah itu yang tak pas. Dia memberi perhatian lebih pada petani, tetapi tebang pilih dan rasanya tak adil. Keadilan yang ia agungkan hanya untuk si petani kopi. Lalu petani tebu, petani tembakau, apa kabar? Dari segelas kopi yang dihidangkan, berapa batang tebu yang dicuekin, berapa daun tembakau yang harus tersisih?”
Cinta cuek saja mendengar ocehan Rangga. Ia tetap menghisap mie sampai yang terakhir di piring ke mulutnya. Ia enggan memperkeruh dan memperpanjang perdebatan sesama pedagang kopi. Setelah mendorong sisa-sisa bumbu mie di mulutnya dengan teh, ia bersendawa tanpa malu. Rangga hanya tertawa.
“Masih lapar?”
“Sekarang sih kenyang. Sepuluh menit lagi kayaknya lapar lagi,” Cinta meringis sembari memerahkan pipi tanda malu. “Sate klathak katanya enak,” lanjutnya memberi kode.

Rangga menerima kode permintaan Cinta. Mereka pun berangkat ke Sate Klathak Pak Bari.

Di sana, setelah menghabiskan masing-masing satu porsi sate klathak yang hanya berisi enam belas potongan daging kambing muda dalam rangkaian dua ruas jeruji sepeda itu, hawa panas menyelimuti keduanya. Kedua insan yang masih dibatasi kata “mantan” itu tak bisa menahan gejolak birahi yang makin menjadi setelah remahan daging kambing menjalar dan mengaktifkan hormon-hormon tubuh. Mulai oxytocin, endorfin, adrenalin, hingga testoterone.

Keduanya sepakat untuk singgah di Guest House tempat Rangga menginap seorang. Menanti dini hari datang. Mengisi waktu luang. Menunggu sampai waktu keberangkatan ke Punthuk Setumbu guna menyaksikan tanda pergantian langit menjadi benderang.

Tak perlulah dijelaskan apa yang mereka lakukan di dalam kamar. Mantan hanyalah kata dan ia terlalu rapuh untuk menjadi benteng serangan birahi.

Menit demi menit berlalu.

Cinta beringsut ke kamar mandi. Rangga mengeluarkan buku kecil dari sakunya, mengambil pena, dan menuliskan deretan kalimat dan bait yang menghampiri benaknya. Ia menulis puisi.

Baris-demi baris ia tuliskan. Begitu sampai di bait ketiga, ia kembali ke bagian atas yang sengaja disisakan guna menuliskan judul untuk puisi itu. Dan dituliskannya, “Cinta Satu Malam.”

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply