Yang Dipermainkan Mainan

Di era yang serba mobile seperti sekarang ini, makin berfungsi menambah kemudahan dalam mobilitas yang tinggi suatu barang, maka ia akan kian diminati. Karenanya, inovasi tiada henti untuk produk-produk tersier yang diperlukan dalam mobilitas tinggi.

Produk inovasi Anda ingin dibeli dan laku keras di masyarakat? Anda kini dipaksa untuk tak melulu memikirkan ergonomis dan fungsinya semata. Selaiknya produk Anda harus memiliki syarat Tiga Ring; ringan, ringkas, dan tidak mudah ringsek. (Sebagai orang yang kreatif banget dalam menemukan istilah dan sudah teruji di sana-sini, saya berani mengklaim bahwa istilah ini saya yang menemukan dan akan segera saya patenkan. Camkan!)

Sebut saja alat telekomunikasi. Pabrikan telepon genggam berlomba-lomba untuk makin ringan. Komputer, televisi, telepon diatur sedemikan rupa hingga ringkas. Mulai anti air, anti jatuh, dan anti lecet, diberi garansi. Demi pembeli yakin bahwa produk itu tidak mudah ringsek.

Berbicara tentang dunia mobile dan mobilitas yang tinggi tadi, saya akhir-akhir ini punya hobi baru. Yakni bermain miniatur mobil-mobilan untuk dikoleksi. Istilah kerennya sih diecast.

Sekelumit tentang diecast akan saya ceritakan satu paragraf saja di postingan ini. Tepatnya di paragraf ini. Tenang, tidak akan panjang. Akan jadi panjang kalau saya terus ngetik penjelasan dan anak kalimat seperti ini agar pembaca yang budiman tidak lari. Lho kan jadi panjang kan. Ini aja sudah berapa kalimat, coba? Ya udah, penjelasan diecast-nya ada di paragraf berikutnya aja deh.

Jadi diecast adalah mainan berupa miniatur yang sebenarnya untuk dikoleksi. Mainan ini ada yang terbuat dari plastik, rubber, besi, almunium, hingga untuk detilnya menggunakan kaca. Mulai replika kendaraan hingga tokoh superhero (action figure).

Ketimbang action figure, saya sih pilih yang replika kendaraan, tiruan kecil dari benda mati. Karena saya tak mau mengoleksi perupa tiga dimensi dari makhluk hidup. Bukan, saya bukannya mau ikut dalam polemik agama Islam tentang halal, mubah dan haram tentang perupa makhluk ciptaan Allah ini.

Saya cuma pernah dapat pengalaman aja dan membuat saya yakin bahwa patung, boneka dan segala bentuk perupa bisa menjadi tempat singgah jin. Jadi gini, saudara saya pernah kejinan, dan dalam usaha mengusir si jin yang sudah tahunan merasuk di dalamnya itu saya melakukan nasehat salah seorang teman, “Hancurkan segala bentuk perupa makhluk hidup di rumahnya! Boneka, patung, dan segala sesuatu yang menyerupai makhluk hidup, musnahkan!”.

Yang kejinan ada di ruang depan, diam-diam saya ambil boneka beruang gede di kamarnya, asbak berbentuk kepala hewan, keramik berbentuk manusia dll saya bawa ke halaman belakang. Diam-diam saya bakar saya hancurkan pakai palu. Percaya nggak percaya, saudara saya yang kejinan di ruang depan itu tiba-tiba meronta-ronta seperti orang kesakitan. Entah si jin merasa kehilangan rumah cadangan, tapi saya yakin ini memang nyambung.

Oke, kembali ke diecast. Untuk miniatur mobil-mobilan saya lebih suka mengoleksi merek Hot Wheels di antara puluhan merek lainnya. Maklum, selain lebih murah, ini merek mudah didapatkan di mana saja.

Pertama tertarik dengan Hot Wheels ini sih pas main ke kantornya teman satu ini (Ni orang malah punya semacam komunitas dengan beberapa temannya. Gathering dan hunting bareng-bareng. kalau nggak salah nama dan tagar yang digunakan #DiecastAnonymous). Di tengah perbincangan sembari menikmati suguhan kopi yang langsung dari mesin di kantornya itu, teman saya mengeluarkan ‘barangnya’ itu di meja. Saya tertarik juga, nyobain moto dan instragam-in. Eh kok bagus dan asyik.

Yup, saya suka ini mainan dari sisi fotografi. Yah itung-itung belajar makro dan pencahayaan. Tantangan sendiri juga untuk mendapatkan photo bagus dari acang (alat canggih, gadget) yang kameranya sebenarnya terbatas. Tantangan dari segala keterbatasan.

Saya juga tidak sedang mengoleksi seri dan jenis mobil tertentu. Yang bikin saya tertarik biasanya catnya ada ornamen jilatan api (flame) dan cenderung sedan keluaran tahun ’60 hingga ’70-an.

Kalau kolektor lain banyak yang tidak dibuka bungkusnya demi menunggu harapan suatu saat akan mahal, saya tidak demikian. Setelah beli, unboxing, jadiin obyek foto, post ke Instagram. Paling banter, salah satu koleksi saya bawa ke mana buat jaga-jaga nemu angle foto.

Tenang, Sayang. Abang nggak akan terlena dan mau menggelontorkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah kok demi satu mainan ini. Tapi daripada Abang mainan cewek atau mainin perasaan wanita lain hayoh! Mending mainan diecast, kan?

Yup, saya masih bisa ngerem dan memegang kendali keinginan untuk mainan ini kok. Kalau satu miniatur mobil ini harganya di atas Rp.50 ribu, saya juga nggak akan beli. Pas ke Malaysia pun, saya sempat ingin beli Hot Wheels dari negara pabriknya. Saya coba penuhi keinginan diri saya itu, tapi yang saya beli harganya juga masih di kisaran Rp.25 ribu. Selama ini dari 15 koleksi saya, yang termahal masih Rp 43 ribu, model Batmobile.

Akhirnya, ijinkan saya berpesan,
Namanya juga mainan, dia yang kita mainkan. Jangan mau kita yang dipermainkan.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

4 comments

  1. Mie says:

    aku juga punya miniatur mobil, 1 unit saja.. itupun dirusak kucingku :( ah..

    Eniwei pesannya kena banget dihati :)

    Terima kasih untuk tulisannya yah Mas..

Leave a Reply