Yang Faktor U di Timnas U

Timnas kelompok umur kita (atau katakanlah tim yang mewakili Indonesia di kancah sepakbola internasional) sering menuai prestasi. Sudah banyak bukti. Sebut saja Milan Junior Camp, Danone Cup, hingga yang euforia kesuksesannya masih dan terus saja didengungkan media tanpa bosan Timnas U-19. Atau boleh disebut prestasi yang tergress adalah Timnas Pelajar U-18 jadi runner up 41’s Asian Schools Championship di Thailand pertengahan bulan November lalu.

Namun, prestasi tersebut meredup ketika si kelompok umur ini beranjak dewasa. Timnas U-23, batasan terakhir kelompok umur ini menjadi titik redup prestasi Timnas kita sebelum “mati suri” di level senior. Ya, saya masih belum mau menyebut prestasi timnas senior kita benar-benar mati. Saya masih berharap!

Saya sendiri selalu menganggap ada faktor U di balik meredupnya prestasi Timnas kita. Bukan hanya faktor U=Usia, melainkan lebih ke U=Uang!

Timnas U-19 sudah membuktikan bahwa faktor Uang bukanlah kunci kesuksesan mereka. Jauh sebelum Indra Sjafri berkoar “untuk negara, kita jangan pernah bicara uang” dalam presscon after match vs Korsel lalu, saya sudah memiliki pegangan kalau uang bukan segalanya bagi tim ini. Pegangan saya adalah beberapa kali obrolan dengan Evan Dimas.

Pertemuan pertama saya dengan Evan sendiri pada 9 Februari 2012 lalu di pertandingan lanjutan Divisi III PSSI. Saya belum tertarik dengan permainan Evan meski hanya jeda beberapa pekan usai Timnas U-17 saat itu juara HKFA. Yang membuat saya tertarik dan memburu Evan kala itu adalah karena Pak Ketum PSSI lagi gencarnya berkoar di media tentang hadiah buat mereka nantinya berbentuk beasiswa pendidikan. Bukan Uang!

Evan sendiri terkesan ogah kalau saya tanya bentuk beasiswa tersebut. Ia kemudian mengalihkan pertanyaan saya tentang bonus yang tak pernah terwujud itu ke perjalanan klub yang ia bela saat itu, Surabaya Muda dan cita-citanya masuk Persebaya 1927.

Setelahnya, saya tak pernah lagi tergoda untuk bertanya tentang beasiswa tersebut ketika bertemu dengannya. Apalagi saya kemudian selalu terlena dengan permainan Evan dalam beberapa ujicoba tim PON Jatim. Saya sering menggumam, “nih anak Pirlo banget nih. Kliatan lemes tapi full teknik”.
Saya sempat tergoda lagi menanyakan bonus setelah Timnas menang lagi di HKFA. Kebetulan saya sering sebangku sama Evan di dalam bus yang mengantarkan Persebaya ke GBT. Sebab, saat itu Evan sudah kuliah dan dapet beasiswa dari Unitomo. Universitas yang memang memberikan beasiswa kepada pesepakbola di Surabaya dan Jawa Timur. “Kalau toh katanya beasiswa, dapat beasiswa yang mana ya? Lha wong dia kuliah udah gratis,” batin saya saat itu.
Namun Evan sendiri tetap menjawab datar, “wes gak eruh, Mas. Aku ora tau mikir iku.” Kemudian kami pun berbincang tentang pemecatan Indra Sjafri dan beberapa rekan-rekannya yang tercoret.

Evan juga selalu cuek dengan urusan gaji di Persebaya. Saat tim itu limbung tanpa kejelasan setelah mundurnya CEO, beberapa pemain pergi dan pulang. Evan? Ia tetap bersedia berlatih sendiri bersama segelintir seniornya.

Semoga Evan tetap mampu terbang tanpa pikiran uang hingga level senior

Evan hanyalah salah satu contoh dari mereka yang belum memikirkan uang di dalam sebuah pertandingan. Bagi pemain yang belum mengenal betul uang dan perputarannya di sepak bola, yang mereka tahu hanyalah bagaimana mengalahkan lawan. Bagaimana memahami strategi pelatih dan memburu gol.

Menurut saya, klub pro lah yang membuat mental mata duitan pemain bola tumbuh. Lumrah memang, namanya juga pro, demi duit. Nikmat uang di awal kontrak, membuat pemain kian berburu uang begitu mereka masuk lebih dalam. Ada uang bonus kemenangan dan masih ada juga klub Indonesia yang masih memberikan bonus gol, hingga ke level kompetisi nantinya bonus top skor.
Suap menyuap agar dia bikin tekel atau penalti, sengaja mengalah dan lain-lain yang berbau match fixing itu hanya dari luar. Dari dalam tim, mereka sudah berkompetisi dengan teman sendiri untuk mengejar bonus. Belum lagi kecemburuan sesama pemain kalau tahu pemain lain yang lebih minim kontribusinya ternyata lebih besar gajinya. Bisa-bisa ia ogah memberi assist si gaji lebih tinggi dan menendang sendiri, spekulasi.
Kecemburuan itu sendiri lucu. Itu dijadikan alasan kenapa klub-klub menolak membeberkan gaji atau transfer pemain ke media. Undisclosed fee bahasa kerennya. Lho katanya profesional?

Trus gimana donk biar mereka nggak punya mental mata duitan? Lha sama, saya juga nyari jawabannya. Tapi menurut saya, mereka ini gajinya kan udah gede kalau di klub nanti. Tak usah lah ditambahi bonus ini itu. Gaji penghuni bench abadi aja kisaran 15-20 jeti perbulan. Gaji si cadangan yang rata-rata lulusan SMA aja sudah setara dengan gaji kantoran lulusan S2 atau S3. Gimana dengan gaji si Bintang.

Program PSSI untuk tak memberikan bonus uang sebenarnya bagus. Tapi ya dikonkritkan lah. Dari jawaban Evan tadi di atas, bisa saja dia sebenarnya bukan capek jawab pertanyaan saya. Tapi dia sendiri lelah untuk mikir dan bertanya ke bapak-bapak pengurus. Jangan nambahi faktor U U lain, Umroh, Undangan ke rumah pejabat de el el, kalau yang dulu-dulu belum dipenuhi. Atau ditambahi pres rilis yang ambigu antara pamer atau keluhan dengan nyebut dana miliaran rupiah. Kalau si pemain baca, mereka jadi ngerasa hutang balas budi TC karena banyaknya uang yang keluar. Bukan demi negara lagi, kan?

Semoga gelimang uang nantinya tak membebani dan menggoda Timnas U-19. Saya hanya ingin mereka menjadi Generasi Penerus. Bukan lagi pemain atau tim yang dalam beberapa tahun kemudian ditulis “dulu mereka pernah bagus” atau malah “jadi pengurus“.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

8 comments

  1. Mas Jun says:

    aku ada temen yang punya adik pemain bola lokal. tidak meneruskan karirnya karena selain waktu seleksi cidera karena dirinya mengaktakan bahwah “Sepakbola di Indonesia belum bisa dijadikan kerjaan mas.” Logis menurutku. Sekarang kalau melihat orang yang bermain di sebuah klub dengan status pemain “biyasa” bukan bintang pun setelah karirnya habis mereka mau melanjutkan kemana? ngapain? toh banyak mereka yang mantan pemain bintang yg sudah memberikan semua tenaga untuk Indonesia pun akhirnya di masa tuanya juga mengenaskan.

    Banyak hal sih jane, pengaruh pemain asing juga bisa. Bukan rahasia umum kalau pemain asing juga membawa dampak kurang bagus buat para pemain muda yang menjadi bintang. Diajak dugem, medok, sampai obat. Karena ya sudah muda, duit banyak, mau ngapain lagi? merasa semua sudah bisa didapat di usia muda.

    Ada benarnya kalau para pemain itu dilindungi dari para orang yang memberikan dampak buruk. Karena semua juga toh demi para pemain itu sendiri to? keluarga, lingkungan yang baik dll itu yang menjaga mereka. karena KPR tidak bisa dikompromi lagi kak. :((

Leave a Reply