Yang Goblok Tahunan Edisi Lebaran

Maaf kalau di judul terasa kurang berkenan. Tapi emang kenyataannya begitu. Kalau enggak mau dibilang goblok, ya mari belajar dan membahas bersama-sama tentang kesalahan yang membudaya dan terjadi pada setiap lebaran ini.

Ada dua hal yang ingin saya bahas di sini. Minal Aidin dan Ilham. Semuanya sama, sering salah kaprah baik penulisan atau pun pembacaan. Dulu sepertinya saya pernah posting hal ini di blog lama, tapi blognya mati dan kalian banyak saja yang masih menggunakan kesalah-kaprahan itu.

Minal Aidin Bukan Mohon Maaf Lahir dan Batin
Masih banyak yang mengucapkan “Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin” dalam setiap brodcast message, kartu ucapan, status facebook atau twitter dan lain sebangsanya hingga langsung diucapkan. Seolah mereka menganggap, Minal Aidin Wal Faizin itu artinya mohon maaf lahir dan batin. #Fail
Menurut saya, akan sangat melenceng kalau pas lebaran kita sering dan selalu ngucapin, “Selamat Lebaran ya, Minal Aidin ya” tanpa ada ucapan maafnya. Parahnya lagi, yang jawab. “Iya sama-sama ya.” Ampuni mereka ya Rabb.
Atau ada pula yang sok-sokan pake bahasa Arab biar dikira muslim sejati, Minal Aidzin Wal Faidzin. See?! Semuanya pake “dzal” padahal aslinya ‘dal’ dan ‘zaik’.

Jadi begini bro sist ya, Minal Aidin itu nggak ada korelasinya dengan maaf-maafan. Coba deh tanya ke yang lebih ngeh Bahasa Arab dan Nahwu artinya apa?! Ah pasti kalian malu bertanya. Baiklah kujelasin.

Minal Aidin Wal Faizin itu artinya “kembali dan termasuk golongan orang-orang yang meraih/mendapatkan kemenangan.” Trus minta maafnya di mana? :P Kalau memang jadi doa, juga tidak ada kata-kata dari doa, ‘Semoga’, ‘Jadikanlah’ dan lain sejenisnya.
Minal Aidin itu akan menjadi sebuah do’a jika tidak kalian penggal. Redaksional aslinya sih, “Ja’alanallaahu Minal Aidin Wal Faizin.” Maknanya, “Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali (ke kesucian) dan dengan meraih kemenangan.” Ada juga yang memaknai “kembali” itu kembali dari perjuangan di Ramadan dan meraih kemenangan di Idul Fitri.
Kalau mau lebih afdhol dan doa yang lengkap, bisa pakai seperti gambar di bawah ini bero sist. :D

Big Thanks buat yang udah desain kartu ucapan ini. Whoever you are :D

Saya sendiri semenjak tahu makna aslinya juga bingung. Dari mana asalnya dan kenapa salah kaprah ini begitu membudaya di Indonesia. Saya (maaf) selalu menuduh lagu Idul Fitri lah penyebab ini semua. Kita semua terjebak rima lagu bertema lebaran yang liriknya ndak pernah pas sampai sekarang. Lagu pesanan orde baru? Entahlah.
Iya, lagu yang ini yang saya maksud:
Minal Aidin Wal Faizin
Maafkan Lahir dan Batin
Selamat Para Pemimpin
Rakyatnya Makmur Terjamin
Tuh kan? Betapa rima ‘in’ dari si pencipta lagu itu menjebak kita. Terus yang nggak pas banget itu, rakyat Indonesia dibilang makmur dan terjamin karena para pemimpin. Duh!

Waalillahilhmadu Bukan Walila Ilham
Salah kaprah berikutnya adalah bacaan takbir. Banyak yang dengan pede nulis walillaa ilham. Yaa pake ‘ilham‘!! Padahal aslinya waalilaahilhamdu. Kalau pake ilham, ‘ha‘ dari lafadz Allahnya hilang. Artinya melenceng jauh dari aslinya; “dan segala puji syukur bagi Allah.”

bacaan takbir. See bukan ilham :D

Itu dari segi penulisan. Dari segi bacaan, masih banyak yang dengan pedenya lantang pake microphone menyuarakan walillaa ilham. Bukan hanya ‘ha’-nya hilang, tapi qolqolah nya juga hilang. Sepengetahuan saya dari hasil ngaji dulu, akhir dari takbir iru dibaca dua versi. Ada yang pake “waalillaahilhamde‘” atau “waalillahilhamed.”

Demikian. Maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Semoga salah kaprah ini berkurang di lebaran tahun depan dan depannya lagi.
Kebenaran hanyalah milik Allah semata, saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya pelajari.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply