Yang Harus Baca Pram

“Kamu harus baca Pram!” lagi-lagi Si Pejalan Jauh meyakinkanku. Kali ini lebih tegas. Seperti kala ia berdiskusi atau menyatakan argumen-argumennya. Tegas demi menguatkan argumen dan pengalaman yang ia pegang.

“Harus baca Pram!” ini mungkin yang ketiga atau keempat kalinya si Pejalan Jauh menyuruhku (menyarankanku). Dalam beberapa kali kesempatan, utamanya beradu argumen tentang gaya penulisan, Pram selalu dikaitkannya.

Saat tur kolonial -begitu kami menyebutnya, nanti saja kuceritakan- menyusuri Bandung tengah malam, ia menunjukkanku rumah Minke di pengkolan sekitaran Braga. Aku yang tak tahu siapa Minke dan apa kaitannya dengan Pram diolok-oloknya. “Kamu nggak pernah tahu Pram? Nggak pernah baca Pram? Baca lah,” itu yang pertama.

Kala itu ingin rasanya aku berontak. Membalikkan semua kalimat-kalimat yang pernah Si Pejalan Jauh lontarkan.  Seperti, “Yee, kalo aing kagak baca Pram emang masalah buat elu, Anying? Sebodo teuing lah!”

Semalam, setelah dua tulisan hasil kuberguru padanya kusodorkan, dan dua-duanya menjadi ajaib karena sentuhannya, nama Pram lagi-lagi terucap di sela-sela kepulan asap rokok Si Pejalan Jauh. Sang pengarang atau penulis hebat yang dua kali didaftarkan Nobel ini kembali direkomendasikan padaku. Tapi, ia tak ingin gaya tulisanku seperti Pram. Hanya untuk bahan belajar menulis. “Aku pernah menulis dengan gaya Pram. Tapi sekarang tidak lagi. Pelajari bagaimana dia merangkai anak kalimat…,” dan sebagainya.

Malam tadi juga kupegang dan kubuka “Nyanyian Sunyi Seorang Bisu” dari Pram. Aku pun ketawa dalam diam. Typo di otakku bertahun-tahun memantik saraf tawaku begitu membaca nama Pramoedya Ananta Toer. Selama ini, yang terekam di memori otakku tertulis Noer. Bukan Toer. Fail!

Gaya tulisan Pram di buku itu bukan bagus. Indah malah. Namun itu belum bisa menggugah semangat dan rasa penasaranku untuk membaca semua karyanya.

Dua halaman kubaca, kurasakan keindahan tulisan. Tapi aku kembali ke cover. Ada yang menggodaku. Tanggal lahirku terpampang di sana. Kucari biodata Pram di buku itu dan ketemu. “Haha! Kemana saja kau Pram?” batinku.
Tanggal di cover itu ternyata tanggal lahir Pram. Ada kesamaan antara aku dan Pram dalam tanggal lahir, meski beda tahun. Setidaknya itu yang membuatku bersemangat untuk belajar dari Pram.

Ya, aku harus baca Pram. Harus! Meski aku tak pernah suka melakukan sesuatu karena kata harus.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone
This entry was posted in Curhat.

One comment

Leave a Reply