Yang Hubungan Antara Wisata dan Kreatifitas

Tamasya, akan membuatmu sejenak kehilangan kata-kata. Namun kemudian akan mengubahmu menjadi pencerita- Ibnu Battuta

Sepertinya ada benarnya kata-kata yang konon pernah diucapkan Ibnu Battuta tersebut. Saat berwisata, speechless akan sejenak melanda kita di tempat wisata tersebut. Entah tertegun, terpana atau merenungi keindahan alamnya.

Namun sepulangnya tamasya itu, kita akan menjadi storry teller tentang tempat tersebut. Baik lisan, tulisan, foto hingga video.

Nah kalau saya dan teman-teman dari Jogja kemarin piknik ke Malang jadinya sih video ini.

Eh bukan cuma video doang sih. Tulisan juga sih. Lha postingan yang sedang Saudara(i) baca ini kan juga masuk ranah tulisan. Oh betapa kreatifnya ya saya ini.

Kekreatifan ini setidaknya membenarkan apa yang Battuta bilang tadi: menjadi pencerita. Toh kalau dipikir-pikir lebih agak jauh lagi fungsi tamasya, wisata dan piknik -atau apa pun sebutannya-, pada harkatnya sama; rekreasi dan refreshing.

Karenanya tak heran jika piknik kerap disebut rekreasi karena memang lebih mengarah untuk memecah kebuntuan ide di pikiran untuk kembali berkarya. Sementara disebut refreshing, menyegarkan kembali otot-otot yang dipacu kerja keras bagaikan kuda itu.

Ternyata ya, piknik tak cuma hura-hura dan melepaskan rutinitas belaka. Piknik ternyata punya tujuan untuk kembali berkarya.

Nah jikalau demikian, ada baiknya memang tempat-tempat yang memiliki potensi wisata terus digalakkan. Seperti Banyu Anjlok di Malang yang saya kunjungi di video tadi.

Selama ini saya tak pernah tahu ada tempat indah seperti itu. Padahal jaraknya dari rumah saya di Turen mungkin sama dengan durasi rata-rata film bioskop plus sebatang dulu.

Dalam permenungan saya di Banyu Anjlok yang berderetan dengan tiga pantai lain, saya jadi berpendapat kalau ketidaktahuan saya tadi mungkin karena kurang digarapnya potensi wisata pantai di Kabupaten Malang. Selama ini hanya itu-itu melulu. Ya kalau nggak Balekambang, Kondang Merak, Ngliyep, Sendang Biru, Sempu, atau mentok ke Bajul Mati.

Andai tempat-tempat berpotensi wisata seperti Banyu Anjlok ini digarap lebih serius macam dijadikan wahana wisata, dipromokan, akses ke sana dipermudah, tentu akan ada banyak faedah yang dirasa. Mulai ekonomi warga yang terangkat dan sampai apa yang menjadi tujuan piknik tadi, kembali berkarya, rekreasi. Wah masyarakat Malang akan lebih kreatif lagi tentunya.

Dengan tak digarapnya potensi wisata seperti itu, saya sendiri agak sedikit heran dengan pemerintah yang tengah dipimpin Bupati sekarang ini dan kembali maju dengan nomor urut satu itu. Padahal dia tak jemu-jemu duduk jadi pemimpin, dua periode jadi wakil, satu periode jadi bupati. Padahalnya lagi, dia diusung Golongan Karya, tapi kok nggak paham tentang bagaimana kembali berkarya dengan rekreasi dan wisata ini?

Saya sendiri mulai paham dan sepaham dengan kota Batu yang kini melejit menjadi kota Wisata. Dulu yang ada hanya Songgoriti dan Selecta, kini puluhan wahana wisata dan menjadi jujukan warga Malang dan luar kota untuk berwisata. Untuk kembali berkarya.

Malang harus berubah dan diubah menjadi baru. Demi #MalangAnyar, yang lebih kreatif dan padat karya, potensi wisata harus digarap. Batu sudah pernah mencoba, kalau sekarang turun ke Malang, kenapa tidak?

Kalau nomor satu masih saja begitu, kenapa tidak mencoba dengan nomor dua saja? Yhaaa.

***

Tulisan ini murni opini dari saya sebagai warga Kabupaten Malang. Tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan buzz untuk mengangkat salah satu calon. Percoyo karepmu, gak percoyo matamu~

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply