Yang #ISLove, Kala Cinta Menggoda Liga

Liga sepakbola tertinggi Indonesia akan segera digulirkan kembali di bulan ini. Nuansa cinta akan memenuhi ISL 2015.

Cinta terlihat menjadi pilihan utama branding -saya lebih memilih kata dari bahasa Inggris ini daripada menggunakan kata ‘pencitraan’ yang cenderung negatif- PT Liga Indonesia. Saya menilai proses branding ini langkah keren dari mereka. Ya, keren! Karena selama ini nggak pernah ada langkah yang benar-benar keren dari PT Liga.

Dipilihnya cinta sebagai tajuk utama itu bisa kita lihat dari bentuk hati di logo ISL 2015 ini.

gambar dari @PSSI_FAI

gambar dari @PSSI_FAI

Kalimat yang juga menjadi tajuk utama ISL 2015 dan ditempatkan di dalam logo tersebut juga cinta sekali. ISLOVE, TAKE IT TO THE NEXT LEVEL.
Hal lain yang menyiratkan cinta adalah, ISL 2015 akan diluncurkan tepat pada tanggal 14 Februari. Sebuah tanggal yang disakralkan sebagai hari raya umat cinta. Ah romantis sekali ISL tahun ini.

Entah alasan utama apa yang melatarbelakangi dipilihnya tema cinta untuk ISL musim ini. Saya hanya bisa mereka-reka beberapa alasan. Di antaranya, PT Liga tak ingin kehilangan cinta dari barisan suporter yang klubnya terpaksa dicoret seperti Persik Kediri dan Persiwa Wamena, atau suporter klub yang gagal banding seperti Persepam Madura United. Dicoret di menit-menit akhir dan tak melihat timnya berlaga di liga tertinggi, bisa saja membuat suporter klub tersebut berbalik arah menjadi barisan sakit hati.

Dalih selanjutnya menurut saya adalah cinta suporter itu aset untuk mendapatkan sebuah keuntungan. Bentuk cinta suporter itu macam-macam. Yang jelas dan kasat mata adalah membeli tiket ke stadion, membeli merchandise, jersey dan lainnya.

Yang tak kasat mata, dan sebenarnya ini alat utama yang mendatangkan keuntungan adalah bentuk cinta suporter yang tetap setia menonton tayangan ISL di televisi. Eits, mereka yang selama ini dicibir sebagai ‘suporter korwil TV’, ‘suporter layar kaca’ dan sebagainya itu lah yang memberikan keuntungan utama bagi pengelola liga. Apalagi mulai marak TV kabel berbayar dan data penonton bisa terdeteksi dengan baik.

Suporter yang rajin browsing dan menyambangi media online untuk menambah kecintaannya sebagai suporter pun bisa dijadikan aset untuk mengeruk keuntungan. Follower di Twitter, jumlah like di fan page Facebook, data surat elektronik dari subscriber website, dan data tentang pergerakan pengunjung media sepakbola merupakan alat tambahan untuk memancing sponsor mengucurkan dananya.

“Gue punya massa segini nih, masak duit elu cuma segitu,” kira-kira begitu kasarannya proses deal-dealan dengan sponsor.

Ah kasian sekali cinta suporter. Sudah kerap dicibir sebagai cinta yang absurd, cinta mereka diperalat demi keuntungan.

Cinta paling absurd adalah cinta suporter kepada klub sepakbola. Cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan. Hanya ingin dibalas dengan sebuah prestasi dan minimal foto bareng pemain, mereka rela mati-matian membela klubnya. Padahal, belum tentu orang-orang di klub, pemain mengenali mereka satu per satu.

Alasan lainnya, mungkin PT Liga sudah jenuh dengan pertikaian antar suporter. Cinta digunakan untuk menyatukan mereka. Saya menjadikan ini sebagai alasan terakhir karena hati kecil saya sendiri agak tak percaya kalau memang demikian.

Konflik, pertikaian dan dendam antar kedua klub biasanya akan tetap diabadikan. Sebab, sudah menjadi rumus yang pasti, makin tinggi tensi dendam antar kedua klub akan berbanding lurus dengan jumlah penonton yang datang ke stadion.

Permusuhan antar suporter bagaimanapun akan selalu dijaga demi sebuah keuntungan. Terutama media. Sebagai mantan awak media, saya pernah merasakan dan tahu betul jika kerusuhan suporter adalah peningkat oplah dan penggenjot jumlah pengunjung. Berita akan terus dikejar dari dua kubu. Makin panas komentar salah satu kubu, makin headline. Stok berita akan memanjang dan jaminan jumlah pembaca akan meninggi jika ada suporter yang tewas. Berita akan terus di-running meski suporter yang tewas sudah ada di liang lahat.

Si Babi teman Sun Go Kong selalu berujar, “Begitulah cinta. Deritanya tiada akhir.” Tapi, cinta memang butuh pengorbanan. Tak perlu dipikir akan berbalas atau tidak kelak. Tak peduli cinta kita diperalat untuk keuntungan mereka atau tidak. Cinta memang harus tetap ditunjukkan.

Seperti yang pernah dikatakan Ayi Beutik dan diabadikan di t-shirt suporter Persib Bandung ini.

ayibeutik

Jika menghitung untung rugi, dukungan kita tak akan murni lagi.

 

Sebarkan!Share on Facebook3Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

4 comments

Leave a Reply