Yang Ken Arok, The King of Tikung

Saya dari dulu heran, kenapa Ken Arok malah dijadikan legend dan tokoh kebanggaan Malang. Padahal dia terkenal licik. Sukses sih sukses, jadi The King. Tapi prosesnya itu lhooo. Saya jadi punya anggapan, kalau embah-embah Malang dulu lebih memikirkan hasil ketimbang proses.

Foto GOR Ken Arok (ngambil di Flickernya deka_firreza)

Yang paling bikin empet banget itu Ken Arok diabadikan di bidang olahraga. Jadi nama GOR di Kota Malang dan julukan bagi Persema. Padahal dia bukan asli Malang, agak ke mBlitar-mBlitaran sana. Lha terus filosofi olahraganya itu lhooh. Seolah mereka ingin yang penting menang, meski harus tikung sana-sini. Atau main kotor seperti sang legenda. Duh!

Tikung sana-sini? #Lhalhoiyalhoya jelas-jelas si Arok ini tukang tikung demi ngedapetin Ken Dedes. Padahal si Dedes ini istrinya orang. Istri broo.. Istri!! Bukan sekadar pacar. Kasarannya udah second hand beroo. Kok yaa masih ditikung juga. Apa dasarnya si Arok emang pernah kerja jual bensin? Yaa semacam SPBU, Senengane Pacarin Bojone Uwong! Ah Arok cinta buta.
Padahal juga, si Dedes ini saya rasa bukan cewek baik-baik. Suka ngumbar aurat. Lha itu coba liat patung Ken Dedes sebelum fly over Arjosari Malang, putingnya keliatan. Ndak dibehain :|

Kepiawaian Arok dalam menikung memang tertanam sejak kecil. Bocah yang ditinggal mati bapaknya sejak dalam kandungan dan dibuang ibunya di area pemakaman ini (kasian banget :(( tragedinya combo) kecil-kecil sudah jago menikung. Lembong yang menemukannya dan membesarkannya menjadi korban pertama tikungannya. Bapak angkat yang merupakan berandalan ini dibohongin melulu, kalah berandal. Dia harus nutupin hutang-hutang Arok di meja judi. Arok pun diusir Lembong dan kemudian ditampung berandalan lainnya dari daerah mBlitar, Bango Samparan.

Saat diasuh si Bango ini keberandalan Arok kian menjadi. Tapi nggak sesukses The Brandal juga sih. Lha Arok agak manja en gaol getooh. Kurang rebel dikit. Iya beroo. Arok suka ama zodiak dan ramalan-ramalan gitu. Pertemuannya dengan Lohgawe, membuat Arok yakin dengan ramalan brahmana dari India itu. Yakni, Arok titisan Wisnu dan suatu saat jadi The King.

Patung Ken Dedes.. Behanya :| (Foto dari blog Okydian.staff.ub.ac.id)

Arok pun kemudian dicariin kerjaan sama si Lohgawe. Badan tegap yang dimilikinya membuat Arok akhirnya jadi pengawal Tunggul Ametung, seorang pegawai kecamatan. Tiap hari ngawal Ametung, Arok pun jatuh hati sama Ken Dedes. Belum ada babad tanah leluhur yang menceritakan dengan jelas apakah Ken Dedes membalas cintanya. Tapi sepertinya, Dedes mau sama Arok itu karena terpaksa setelah Ametung mati. Ada juga yang bilang, Dedes luluh kena rayuan Arok karena dia juga sebenarnya nikah sama Ametung itu karena terpaksa. Kepeksan kok double Dees, Dees.

Itu di atas kok Ametung tiba-tiba mati aja ya :|
Padahal ada kisah tikung lagi. Jadi untuk ngebunuh Ametung yang terkenal sakti, Arok harus punya senjata yang sakti juga. Dasar tukang tikung, ia tak mau memilih pedang. Ia ingin keris yang memang penuh tikungan.

Bango Samparan pun ngenalin Arok sama tukang bikin keris di daerah Wingi Blitar, namanya Empu Gandring. Si Empu nyanggupin, tapi dia butuh waktu setahun. Ya karena lagi ada banyak pesanan, masih ada proses, kulakan bahan, test drive ketajaman dan lain-lain hingga quality control.

Arok awalnya mau setahun. Tapi keinginannya untuk jadi raja kian menguat. Baru lima bulan ia kembali ke Gandring dan ngeyel harus jadi saat itu juga. Gandring keluar menunjukkan keris dengan tujuh tikungan yang sebenarnya belum sempurna itu, dengan maksud menjelaskannya. Tapi Arok yang sudah kadung terlalu amat sangat ngebet, merebutnya dan menusukkannya kepada Gandring. Di ujung ajal, Gandring menyumpahi kalau tujuh tikungan itu adalah tujuh korban si keris. Dan Arok akan menjadi korban dari si keris itu sendiri.

Dalam menikung dan membunuh Ametung, Arok juga masih menikung. Keris tadi awalnya ia pinjemin ke temennya sesama pengawal, Kebo Hijo. Si Kebo sempet pamer ke orang banyak kalo kerisnya baru. Malemnya, pas si Kebo mabok, Arok nyuri tuh keris dan berangkat ngebunuh Ametung. Apa boleh bikin, keris yang menancap di dada Ametung membuat orang-orang nuduh Kebo Hijo. Arok? Udah di kamar aja nikmatin Dedes. Hih!

Arok pun jadi pegawai camat. Beberapa tahun kemudian Arok jadi raja dengan proses yang tak jauh-jauh dengan menikung. Raja Kadiri, Kertajaya saat itu geger dengan para Brahmana. Lohgawe cs pun kemudian meminta suaka ke Arok dan merayunya agar mendirikan kerajaan Tumapel. Arok pun memerdekakan diri dari Kadiri. Kedua kerajaan ini pun perang dan Kadiri kalah, Kertajaya mati. Arok? Nikah masuk kamar lagi, kali ini ama selirnya yang baru, Ken Umang. Hih!

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik sih dari kisah di atas. Tapi satu pertanyaan belum terjawab, apa yang bisa dibanggakan dari seorang tukang tikung?

(Postingan ini diilhami oleh postingan dik itu, mas itu juga, dan mbak itu juga bisa. Atau kalau kamu mau buat juga legend daerahmu, silakan)

Sebarkan!Share on Facebook2Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

15 comments

  1. masjun says:

    Huahaaahaha.. Apik iki.. untung jaman disik ndak ono felixsiauw. Hahaha..

    Anu, hikmah dari tikung menikung itu ra ono. Cuman buat beberapa orang, ‘merebut’ itu bisa merupakan suatu kebanggaan. Tapi kebanggaan sing salah sih.

  2. warm says:

    gadjah mada jg aneh, latar belakangnya jg ga asik2 amat, tp top, jd nama uiversitas, dan anehnya saya malah kuliah disitu #hlhoh malah OOT

    tp uraian sampeyan di atas itu, muantep masbro :D

Leave a Reply