Yang Kenangan Dua Hamid

Dalam sebuah diskusi, di Bandung tentu saja, Zen pernah menuturkan perbedaan ingatan dan kenangan. Menurutnya ingatan sengaja kita rekam, kita simpan, dan sengaja kita panggil atau cari-cari sewaktu kita butuhkan. Sementara kenangan, ia tersimpan dengan sendirinya dan muncul sewaktu-waktu. “Itulah makanya ada lupa ingatan, tapi tak pernah ada lupa kenangan,” katanya memperkuat.

Kini, kalau boleh saya tambahkan, begini:
“Kenangan akan bertambah seiring kepergian dan kehilangan”.

Kepergian Muhammad Hamid 20 Mei lalu lah yang membuat saya berargumen demikian. Saya yakin, Hamid kini berada dalam baris kenangan benak saya dan akan muncul sewaktu-waktu. Tanpa saya panggil.
Pasalnya, dalam hidup saya hanya satu nama Hamid yang saya kenal selain Hamid asal Krapyak mBantul ini. Dalam deretan baris ingatan dan kenangan benak saya selama ini, hanya nama Romo Kyai Hamid Pasuruan seorang yang membekas dan tiba-tiba muncul.

Saya memang tak pernah bertemu langsung dengan Romo Kyai Hamid. Namun, otak dan benak saya sudah terpatri dengan nama beliau. Di kampung saya, terutama di ruang tamu rumah saudara-saudara saya, nyaris semua memasang foto beliau.
Kisah tentang kesederhanaan, kesahajaan, dan kearifan beliau bukan hanya saya dapatkan dari buku-buku yang dibawa teman jika pulang dari pesantren saja. Kisah tentang Romo Kyai Hamid kerap muncul dari cerita selingan para guru ngaji saya di kampung.
Tak cuma itu, Romo Kyai Hamid selalu tersebut dalam tawasul Fatihah berdasarkan Dzikrul Ghofilin yang kadang saya ringkas, setelah rasul – ambiya’ – kedua orang tua – KH Hamim Djazuli (Gus Miek) barulah nama beliau tersebut dan disusul KH Achmad Siddiq Jember.

Bukan berarti saya ingin menyetarakan kedua Hamid yang sudah sama-sama meninggal itu di postingan semacam obituari ini. Akan banyak yang marah jika Hamid teman saya itu dengan lancangnya saya sejajarkan dengan Romo Kyai Hamid yang sudah dicap wali oleh kalangan kaum sarungan itu. Apalagi Hamid teman saya ini tak bersorban.

Tapi ada beberapa hal yang sebenarnya ingin sekali keduanya saya sejajarkan. Yang pertama dari sisi kesederhanaan. (Mungkin, karena maqomnya beda, untuk Romo Kyai kata saya gunakan zuhud, Hamid yang saya kenal pakai sederhana aja deh).

Sederhana adalah Hamid dan Hamid adalah sederhana. Hidupnya sederhana, kalau memang beli rokok ngeteng ya bilangnya ngeteng. Ia tak pernah menutup-nutupi.
Hamidku bercandanya sederhana, tapi tetap bikin tertawa.
Hamid yang kukenal ngritiknya sederhana, tapi tetap ngena.
Hamid temanku ngetrollnya sederhana, tapi tak akan pernah bisa membuat orang sakit hati. Hamid sudah tahu betul di mana sebuah batas bercanda dan menyakiti.
Akun twitternya saja sudah bukti jelas kesederhanaannya. Akun @hmd yang pernah ditawar orang, berapa dollar-nya saya lupa, tapi Hamid tidak mau melepasnya.

Meski sederhana begitu, namun untuk urusan membantu teman, ia berikan total. Saya yakin, setelah ini akan ada banyak cerita tentang Hamid yang membantu teman mencarikan pekerjaan, memberi proyekan dan lain-lain. Saya sendiri pernah merasa segan sama dia ketika ditemani check up di Panti Rapih. Padahal ia baru beberapa hari keluar dari RS yang sama karena opname, dan saya tidak menjenguknya.

Sementara yang kedua, kepergian Hamid temanku ini sedikit mengobati kerinduan akan suasana nyantri atau nge-NU. Bertandang ke rumahnya, meski untuk pertama harus dengan suasana duka, kampung Hamid mengingatkan saya akan kampung halaman. Langgar di mana-mana, anak kecil berangkat mengaji, dan pesantren.
Sebuah pemandangan yang unik karena ini Yogyakarta yang dikenal jarang NU-nya. Krapyak sudah seperti Pasuruan, tinggal nambahin orang-orang berbahasa Madura saja.

Yang membuat Hamid saya sandingkan dengan Romo Kyai adalah curhatnya dengan Tuhan di timeline. (Saya sebenarnya agak benci harus sependapat dengan seorang Arman Dhani yang menilai) Hamid ‘sufi’ jika menyikapi persoalan hidup dan Tuhan.

Dengan wajahnya yang tersenyum saat meninggal, silih bergantinya yang menyalati jenazahnya, banyaknya teman beda kota sampai rela jauh-jauh datang demi ikut prosesi pemakamannya, saya makin yakin kalau Hamid sudah mendapatkan khusnul khotimah. Dan memang semoga sejajar dengan Romo Kyai Hamid.

Dia sudah bahagia di sana, teman-teman. Tolong jangan menangis lagi ya, terutama Baba dan Thon9. Konon menangisi kematian adalah penentangan dari kalimat istirja itu sendiri. Kalau sudah yakin bahwa semua itu milik Tuhan dan akan kembali padanya, buat apa menangis lagi?

Simpan tangismu teman-teman. Gunakan nanti saat Hamid tiba-tiba muncul dalam kenangan kita. Jadikan air mata itu sebagai tangis bahagia. Bahagia karena kita pernah punya teman yang baik dan sederhana seperti Hamid, online dan offline.

Sebarkan!Share on Facebook1Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

3 comments

  1. Amien Nugroho says:

    Mas Fajar,

    Lagi-lagi saya menangis hanya dengan membaca cerita2, twit2, dan kesaksian2 teman2 akan seseorang yg saya sendiri tdk pernah kenal, yaitu Mas Hamid. Begitu dalam kesan yg ditinggalkan tdk saja pd saudara dan teman, tp jg utk sy yg hanya sekedar penikmat twit2nya.

Leave a Reply