Yang Liga Mini FPL Itu Bernama Hercules

Kreatifitas memang selayaknya tanpa batas. Bagi saya, adalah sebuah kebahagiaan dan kepuasan tersendiri menciptakan sesuatu di tengah keterbatasan.

Makin senang jika melihat orang-orang kreatif yang ada aja idenya di tengah segala keterbatasannya.

Hal di atas yang menjadi kebersediaan saya begitu ditawari seorang teman untuk bergabung dengan liga mini Fantasy Premier League (FPL) yang entah kenapa namanya Hercules ini pada awal musim 2016 lalu.

FPL yang terlihat terbatas sistematika juara dan sistem poinnya yang baku itu, bisa di-adjust sedemikian rupa oleh liga mini yang maaf tertutup ini.

“Ini arek-arek Malang rata-rata. Kamu gantiin S****k (manajer band, jurnalis musik top daerah dan ibukota), dia kecirit-cirit. Per musim liga dicari 32 peserta. Seasonnya 6-7 gameweek (GW) dengan  minus dihitung. Ada juara per season, juara GW dan juara Coppa tak menghitung minus,” begitu kira-kira penjelasan teman saya itu 2016 lalu.

“Menarik nih,” balas saya. “I’m in!”

“Deposit 250 k. Juara season sejuta. Juara GW 150k, sampai peringkat 7 juga dapat…”. “Siap!” saya memotongnya.

[Pembaca yang budiman, sampai di sini, terserah Anda. Jika Anda menganggap ini judi, maka sebaiknya Anda tinggalkan laman ini dan tak usah merunyam di kolom komentar. Buang-buang energi dan kuota Anda karena masih ada sekitar 10 paragraf lagi. Saya juga tidak mau berdebat, toh dasar dan larangan berjudi itu dari agama. Agama tidak untuk diperdebatkan. Dan, konon, agama sendiri adalah perjudian: mempertaruhkan seumur hidup di dunia dengan berharap hadiah sesudah kematian.]

Saya bergabung dan masuk dalam WhatsApp Group mereka. Saya asing di grup itu, tapi tak ada sedikitpun rasa terasingkan.

Dari 32 orang di grup, hanya satu yang saya kenal –si teman yang menawari di atas tadi. Ada satu lagi yang saya tahu (dan kemungkinan besar waktu itu dia tak tahu siapa daku), anggota band indie Malang idola saya. Dua itu saja. Tapi sekali lagi saya merasa tak terasingkan.

Ini grup aneh. Kita pada dasarnya berkompetisi, tapi malah saling sebar info dan berdiskusi dengan asyiknya. “Sinau” atau “Kubisikin”, begitu grup itu menyebutnya.

Oiya, satu yang saya suka karena ini juga unik, setelah kick off match pertama, admin akan mengumumkan GW Captaincy. Dengan kapten terbanyak dipilih sedikit banyak kita jadi tahu peta kekuatan GW tersebut dan jadi pedoman kita untuk saling pantau dengan lawan terdekat di klasemen.

Lalu, dua season saya lalui tanpa hasil di Hercules 2016, tapi tak meruntuhkan rasa penasaran saya dengan mereka-mereka yang kreatif ini. Formulasi penentuan juara jika poin sama (melihat poin kapten dan bench), formulasi hadiah, dll membuat saya dibekap rasa penasaran sekaligus kagum dengan mereka.

Apalagi, para panitia kemudian mengumumkan ada Coppa Couple. Poin kita dipasangkan dengan yang lain. Sedangkan pasangan kita diatur sedemikian rupa dengan kerennya (peringkat 1+32, 2+31 dst..) hingga tercermin asas keadilan. Berhadiah, tentu saja. Damn it’s superb!

Ketika saya pulang Malang, saya sempatkan bertemu mereka dan nobar bareng (belakangan ini seperti jadi keharusan saya jika mudik, menjumpai teman-teman yang asyik sekali).

Nobar pertama dengan mereka pun berjalan dengan asyik. Dikenalin muter, dapat kaus juga meski sisa dan saling sinau. Mereka memang selalu mengagendakan nobar, dan ini menyenangkan.

Biasanya nobar ‘kan untuk nonton tim yang kita gemari dan memberi dukungan semu yang tak pernah terdengar hingga di lapangan sana. Ini malah nobar isinya cuma mantau satu dua pemain dan saling banter, sindir, hingga ejekan laknat: ketawa keras di depan muka. But it’s fun! Membahagiakan.

Di nobar pun mereka masih simpati dengan saya yang hampa di dua season awal. Mereka memberi tips dan trik bagaimana agar deposit kita tak sia-sia. Minimal dapat kembalian laah. Intinya kalau sudah tak ada harapan masuk juara season, jadilah perebut juara GW atau coppa yang tak memperhitungkan minus transfer.

Hal menarik lainnya adalah Coppa Couple. Hadiah emang tak seberapa, hanya sebesar juara GW, tapi proses kerjasama dengan teammates ini yang asik. Trik kapten sama atau beda, samain kapten dengan lawan saja, bocorin hasil scout, semua didiskusikan berdua.

Urusan scout, saya akui mereka –yang selalu ngetawain hasil scout-nya Pandit karena cuma lihat index di FPL dan sudah ada datanya di apps dituliskan ulang atau malah sesekali hasil translate yang kita orang juga bisa baca bahasa Inggris– ini lebih jago.

Percaya atau tidak, sejak GW 2 di 2017 ini, di Hercules ini sudah ada yang koar-koar tentang Tammy Abraham dan ndilalah tumus di GW3. Lalu sebelum GW 4 saya dibisiki my lovely couple akan Tomer Hemed, dan terbukti satu gol satu assist.


Ada yang ngulas Tammy dan Hemed di media persepakbolaan Indonesia? Pfft.. FPL apps aja akan mengulasnya baru setelah yang tersebutkan itu berkiprah.

Dan, meski musim lalu hitungannya rugi besar, saya nyatakan bergabung kembali dengan Hercules musim ini. Selain mulai paham, panitianya terpercaya, tahun ini ada juara satu musim penuh. Semoga!

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Leave a Reply