Yang Matinya Pejuang Bahasa

tumblr

Pandangan Putri kosong di hadapan mayat ayahnya. Pria tegas idolanya itu kini tak berdaya tanpa nyawa.

Tiada dihiraukannya beberapa pelayat yang tiba. Saudara, tetangga dan kolega ayahnya yang menyampaikan belasungkawa.

Rumah yang ramah itu kini rela tak rela harus bersandang duka. Menjadi rumah duka karena sang Ayah terjatuh tiba-tiba. Tepat saat ia mengajar Bahasa Indonesia di kampusnya. Serangan jantung, katanya.

Kematian yang datang tanpa pertanda memang selalu menyesakkan dada. Ada pertanda saja, masih tak akan rela.

“Ayah. Kau kini telah tiada. Maafkan aku yang tak bisa merubah ini semua. Semoga kau tenang disana,” ratap Putri di antara sesenggukannya.

Tanpa membuka mata, mayat itu berbicara. “Mengubah. Bukan merubah. Kata dasarnya ubah bukan rubah. Di sana katamu tadi, setelah di tidak ada spasinya ya?”

Belum sempat Putri menjerit untuk kaget atau ketakutan, sang mayat lalu setengah bangkit dari peraduannya. “Itu juga. Penulisan nama saya, setelah Prof Dr harusnya titik, bukan koma,” ujar si mayat sembari menunjuk karangan bunga.

“KBBI ku ada di meja kerja. Sering-sering dibaca,” ujarnya lirih kepada putrinya tercinta. Sang mayat lalu kembali membaringkan tubuhnya. Putri pingsan seketika.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

2 comments

Leave a Reply