Yang “ME, WE”, Puisi Terindah Muhammad Ali

Muhammad Ali dan The Beatles © Chris Smith—Popperfoto/Getty Images

Adalah wajar jika kematian Muhammad Ali hari ini memenuhi lini masa media sosial Saudara sekalian. Karena di atas ring Ali memang bukan sekadar petinju yang jadi juaranya orang banyak. Lebih dari itu Ali adalah penghibur, pahlawan kemanusiaan serta seorang penyair yang puisinya seperti tak pernah terpikir. Keluar dari mulut tiba-tiba, tapi tetap sarat makna.

Tahun 1967 menjadi cikal bakal kenapa petinju ini akhirnya digemari masyarakat dunia dan dianggap sebagai pahlawan kemanusiaan. Kala itu, ia berang begitu melihat namanya tercantum dalam daftar wajib militer untuk diberangkatkan ke Vietnam.

Amerika memang tengah kepepet dan baru saja tersadar bahwa superhero mereka hanya rekaan dan tak bisa diandalkan. Sementara Ali adalah manusia tak terkalahkan yang cukup bisa mewakili sosok super hero.

“Tak akan dapat apa-apa dengan melawan Viet Cong,” ujar petinju berkulit hitam itu begitu namanya tercantum dalam kloter jamaah perang ke negara Asia Tenggara tersebut. Ia malah melanjutkan dengan sindiran agar pemerintahnya berkonsentrasi pada masalah rasisme di negeri mereka sendiri, “Lagipula, tak pernah ada orang Vietnam yang memanggilku nigger”.

Dalam sebuah wawancara terkait penolakannya itu, Ali bersyair dengan indah. Sebuah puisi berimakan kulit yang cukup menusuk ulu hati pemerintah.

Daftar itu hanya tentang kulit putih /Mereka kirim kulit hitam / guna melawan kulit kuning/ untuk melindungi negara yang telah mereka curi dari kulit merah

Pembangkannya lalu dianggap sebuah pemberontakan. Ali divonis denda dan kurungan selama lima tahun. Bukan hanya tak lagi bertarung di atas ring, ia dijauhkan dari dunia tinju. Komisi tinju Amerika juga ikut berpolitik dengan mengeluarkan pencabutan gelar juara dunia yang didapatkan Ali.

Banyak tahun kemudian. Ali yang sudah pensiun dari tinju memenuhi undangan sebuah universitas sebagai pembicara. Satu dari audiens sempat menanyakan alasan Ali kenapa ia mau bersusah payah berjuang dalam memerdekakan kulit hitam.

Ali hanya menjawab dua kata berima. Bolak-balik saja hurufnya. Tapi sarat akan makna bahwa semua manusia itu pada dasarnya sama: “ME,WE.”

Itu adalah puisi terpendek dan terindah yang pernah saya baca.

Sebarkan!Share on Facebook8Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone
This entry was posted in Nyastra.

Leave a Reply