Yang Menonton Demokrasi

Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh jadi presiden… Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya.
Bukan Pasar Malam-Pramoedya Ananta Toer

Bebas. Satu kata itu tersirat dari penggalan novel Pram di atas. Bebas menentukan dan menunjukkan pilihan, bebas bersuara, serta kebebasan lain yang tentu tetap dalam koridor hukum, serta norma yang berlaku.

Dan akhir-akhir ini, kebebasan itu kian menjadi-jadi. Riuh sekali.

Di social media ada twitwar, meme war, bot, fake account, dukungan melalui avatar, perang komen di status, semuanya makin merebak. Beragam bentuknya.
Tapi bagi saya, ini asik. Karena ini Indonesia sekali. Bhineka Tunggal Ika banget. Beda-beda tapi satu tujuan; mendukung capresnya sambil menjatuhkan pasangan capres lawan.

Sah-sah saja sih. Bagi saya pemilu-pemiluan yang sudah masuk ke periode ketiganya ini adalah benar-benar kemenangan besar rakyat dalam berdemokrasi. Presiden dipilih langsung rakyat. Ini kebangkitan bagi kita- yang sebatas saya tahu dan rasakan -memang terhitung kelam untuk urusan demokrasi.

demokrasiterpimpinSemasa bangku sekolah, kerap kali dalam pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) menyebutkan bahwa saat era Soekarno menggunakan Demokrasi Terpimpin. Belum apa-apa anak SD macam saya dulu ini sudah dibikin bingung. Memaknai “demokrasi” yang bebas dan lalu disandingkan dengan “terpimpin” yang dimaknai terpusat pada kebijakan seseorang.

Kemudian era Soeharto demokrasi juga cuma dibuat slogan dan soal ujian sekolah saja. Kami-kami dulu hafal banget apa itu asas LUBER. Langsung Umum Bebas dan Rahasia yang ternyata hanyalah bungkus dari pengebirian demokrasi.

Kamu nggak boleh tahu saya coblos apa dan saya dilarang menanyai kamu nanti coblos apa. Meski saya guru kamu. Karena pemilu itu rahasia,” ujar Guru kelas saya dulu mencoba memberi pemahaman. Padahal, semua murid juga tahu kalau seorang guru yang merupakan pegawai negeri diwajibkan mencoblos Golkar. Rahasia dari mana?

Dari dua periode demokrasi itu, pantas saja kawan-kawan senior saya sering memplesetkannya menjadi, “sing geDE eMOh diKeRASI”. (Yang gede nggak mau dikerasin).
Kalau saya sih lebih suka menggubahnya menjadi pantat wanita dambaan lelaki, “geDE, seMOK, RApet dan beriSI”.

Sekarang sih rahasia dalam memilih menurut saya hampir tidak ada juga. Siapa yang punya jago, sebisa mungkin mengajak kawan dan handai taulannya. Mulai bisik-bisik sampai terang-terangan. Dari yang relawan hingga bayaran. Dari yang mengajak dengan menunjukkan keunggulan jagoannya sampai yang menjatuhkan lawan dari capres pilihannya.

Dan, berbeda pada dua pilpres sebelumnya, kali ini saya sampai pada titik di mana saya bingung untuk memilih. Slogan kebaikan salah satu capres malah hanya terlihat memuakkan di mata saya. Apalagi yang menjatuhkan.

Kedua kubu terutama yang bayaran saling menjatuhkan. Lha saya?
Saya hanya bisa menonton. Seperti kalimat lanjutan dalam paragraf yang sama di novel Pram tadi, “Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton.”

Demokrasi menonton memang sistem paling sesuai bagi saya saat ini. Apalagi yang namanya penonton kalau kata orang Jawa itu “ndelok.” Kendel yen alok (Berani berkoar, ngejek).
Ya sudah, kedua kubu saling menjatuhkan, saya jatuhkan saja semuanya. Bebas dong? Kan, demokrasi.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

One comment

  1. Frenavit Putra says:

    Menarik mas Broh…. Mari menjadi penonton saja, penonton yang bijak dan sehat pastinya.. hehehe…

    Btw gak janjian, tapi kok ya tulisane dirimu sama dengan postinganku semalam.. :P

Leave a Reply