Yang Pelajaran dari Keset

Keset memang bijak. Ia akan tetap welcome meski terinjak. Ada keset dalam kesetiaan. Tapi bukan itu yang saya dapat malam ini darinya. Keset membawa jawaban dari kegundahan saya belakangan ini.

Memasuki mini market langganan tengah malam ini, hati saya langsung pedih begitu belok ke area parkirannya. Ada seorang wanita berpakaian lusuh, sepintas seperti gelandangan, dengan tumpukan keset di depannya.

Wanita ini mengenakan topi dan memilih duduk di tempat yang agak gelap. Mungkin tak ingin dikenali oleh handai taulan atau orang yang mengenalnya. Namun tumpukan keset di depannya menandakan bahwa ia tengah berjualan. Mesi enggan dikenali, ia ingin didekati dan barangnya dibeli.

Udara dingin yang akhir-akhir ini melanda dan kita keluhkan seolah tak dihiraukannya. Ia duduk ngemper, menyandarkan diri di tembok parkiran sembari mencuri kehangatan dari beberapa keset yang sengaja diatur melingkari duduknya.

Di dalam mini market, perang berkecamuk dalam benak. Antara harus membeli itu keset atau tidak.
Satu sisi berbisik, ah itu hanya trik. Drama dan kesedihan kan memang penggenjot pembelian. Lihat betapa kesedihan yang ditunjukkan mengantarkan kontestan menjadi pemenang acara idol-idolan. Politikus pemburu suara juga kerap melakukan trik ‘Politik Teraniaya’ agar rakyat memilihnya karena rasa kasihan.
Sisi yang lain membawa saya ke dunia dongeng. Siapa tahu dia malaikat menyamar. Membelinya kau akan mendapatkan ganjaran berlipat. Bayangan ini langsung terhempas dari perang, kalah sebelum jurus-jurusnya terpasang.
Sisi lainnya, seolah bersuara kalau saya harus membeli kesetnya. Meski di depan kamar mandi sudah ada keset, pintu depan kamar belum ada kesetnya. Saya masih bisa membelinya, karena kebutuhan, bukan karena iba.

Pikiran itu masih berkecamuk begitu saya menyalakan motor saya. Sampai saya lupa (dan baru tersadar di kosan) bahwa ada satu barang yang ingin saya beli di mini market itu, tapi tak terbeli.

Motor saya matikan lagi. Saya berjalan menghampiri. Berbasa-basi sebagaimana pembeli. Tanya harga, langsung bayar. Dengan menyodorkan selembar sepuluh ribuan, dua keset bermotif kotak-kotak, berbahan kain, pun berpindah tangan.
Saya menghindari pertanyaan tentang dirinya macam, “Asli mana”, “Mulai jualan kapan”, “Puasa Nggak”, “Sahur di mana”, “Keluarganya bagaimana”, dan sejenisnya. Tak lain, saya menghindari membeli karena kasihan.

Dua keset yang terbeli malam ini, sepuluh ribu

Dua keset yang terbeli malam ini, sepuluh ribu

Sepanjang jalan pulang, rasa puas terbayang. Saya membeli bukan semata karena kasihan. Sedikit banyak memang iya, tapi tidak keseluruhan.
Saya puas membeli keset itu karena mampu menyelesaikan perang dalam benak. Ya, perang itu langsung terhenti karena saya membeli. Terserah saya mau dibilang kalah atau tidak, yang penting perang selesai. Karena saya tak suka adanya perselisihan.

Toh keset itu juga memberi bonus hikmah pada saya malam ini. Terutama tentang kegundahan akhir-akhir ini; bertahan atau tidak saat terpuruk begini, berhenti atau melarikan diri, hingga bayangan THR yang terus mencemburui.

Keset dan penjualnya memberi jawaban bahwa dingin Ramadan bukan penghalang. Ia tetap berusaha hidup dengan sunah rasul: berdagang. Ogah mengemis dan mencari jalan pintas demi uang. Tak usah dihindari atau dikejar hidup dan mati, Lebaran ala Indonesia dengan segala macam perayaannya itu, akan tetap datang.

Keset malam ini juga menegaskan bahwa hidup bukan hanya tentang Lebaran. Ia dan Ramadan hanyalah ujian demi hidup mendatang, khususnya selama setahun ke depan. Kegundahan, keterpurukan yang datang juga ujian. Ujian demi hidup yang harus terus berjalan.

Terimakasih Tuhan yang penuh misteri. Kau masih mau berikan jawaban, meski lagi-lagi dengan misteri.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply