Yang Penalti dan Wine di Padang

When the wine is in, the wit is out ~ Peribahasa

Kembali lagi pulau Sumatra berada dalam penggalan kisah hidup saya dengan sepak bola. Sebuah hadiah penalti untuk lawan akhirnya berujung dengan wine. Ironis memang, sebab wine biasanya untuk merayakan sebuah kesuksesan dan kesenangan.

Kali ini sepak bola Padang yang menjadi cerita. Berbeda dengan trip Sumatra saya sebelumnya yang mengawal Timnas U-22 selama 10 hari di Pekanbaru saja, tujuan saya ke pulau yang namanya berawal dari salah lidah para penjajah Portugis dalam menyebut ‘Samudera’ dan Pasai kali ini adalah untuk menemani tim Persib U-21 ke dua kota. Dalam sepekan, jadwal mereka away ke Padang dan Palembang untuk bertemu dengan Semen Padang U-21 (29/04) dan Sriwijaya FC U-21 (4/05).

Di lawatan pertama, Stadion H Agus Salim Selasa itu benar-benar menjadi saksi. Dua tim Kabau Sirah kebanggaan Padang yang bertanding di hari yang sama dihadiahi oleh wasit berupa penalti.

Semen Padang senior yang bermain sore hari mendapatkan hadiah penalti dari wasit Dodi Setia Purnama. Hadiah penalti karena pemain Arema dinilai hands ball di menit ke-86 ini (menurut saya sengaja) gagal diselesaikan oleh Esteban Vizcarra.

Yang hati saya dapat tangkap, Esteban mengeksekusinya dengan nurani. Kakinya memang menendang bola, tapi nuraninya menolak menyelamatkan timnya dari kekalahan kandang dengan cara memalukan dan keji seperti itu. Dicongkelnya bola dari titik putih agar dapat ditangkap dengan mudah oleh Kurnia Meiga. Ya, ditangkap karena dicongkel. Bukan ditepis karena ditendang.
Nurani Esteban mungkin juga sudah mengenal betul siapa Dodi yang sempat diistirahatkan Komite wasit PSSI awal Februari lalu itu. Bisa jadi begitu.

Penalti gagal dimanfaatkan seniornya, Kabau Sirah Muda akhirnya berani memanfaatkan hadiah penalti yang lagi-lagi didapatkan di penghujung laga. Entah bisikan apa yang terngiang di para pengadil pertandingan hari itu. Wasit Armes Renko juga memberi hadiah penalti untuk insiden seperti ini.

Dari video di atas, saya melihat bek PERSIB U-21, Sugianto, mengambil bola. Bersih tanpa mengenai striker Semen Padang U-21, Ahmad Zakki. Kalau keputusan penalti dilihat dari kaki bek Persib yang terlalu tinggi dan ada niatan untuk mencederai lawan, dari video di atas saya melihat Sugianto mencoba mengambil bola dengan punggung kakinya. Bukan dengan telapak kakinya.
Zakki kemudian mengeksekusi penalti tersebut dan Semen Padang U-21 menang 2-1 atas Persib U-21 yang sempat memimpin terlebih dahulu.

Usai laga, saya perhatikan pelatih PERSIB U-21, Jaino Matos, mencoba menenangkan anak buahnya. Ia mencoba membuat tim berjuluk Maung Ngora itu tetap tenang dan tak larut dalam emosi berkepanjangan. Meski saya tahu, ada amarah dalam rona wajahnya.

Welcome on Indonesian Football, coach!” saya sampaikan kalimat itu padanya dengan senyum saat kami naik bus menuju hotel tempat kami menginap. Ia hanya tertawa.

Sesampainya di hotel, Jaino meminta saya tak segera masuk kamar. Saya diajaknya ke cafe hotel dan memesan dua buah wine. Bingung sejurus. Kalah dikerjai kok malah minum wine?
Demi menghibur saya iyakan ajakan itu. Dan saya dipilihkannya wine Rio Aneio Spanyol 2010, ia mengambil yang anggur Prancis. Saya tak tahu maksudnya. Mungkin ia menjadikan saya sebagai Semen Padang karena wine dari La Roja seperti warna jersey Padang dan dia memilih Les Blues, warna dari jersey Persib. Mungkin saya diharuskan pelatih asal Brasil ini merayakan kemenangan si merah dan sepakbola Indonesia yang telah mengerjainya, dan ia merayakan hatinya yang membiru, warna kesedihan, warna dari Persib.

Di antara bunyi botol wine yang beradu dengan gelas, Jaino sempat berujar kalau ia merayakan anak asuhnya yang sudah bermain baik. Sesuai dengan yang diharapkannya. “Saya ingin selalu ada peningkatan di babak kedua. Anak-anak sudah membuktikannya. I’m happy for that,” ujarnya sambil senyum.

“Tapi ini liga U-21, liga pembinaan. Wasit seharusnya merasa diri mereka bagian penting dari pembinaan. Kalau di liga seperti ini wasit sudah tidak bisa menunjukkan keadilan, bagaimana ana-anak terjun di sepak bola profesional Indonesia nanti?” kata Jaino sambil memercingkan wajahnya merasakan pahit dari wine dan pahit dari sebuah kekalahan.

Dan, saya hanya mengangguk. Mengiyakan bahwa ada kebenaran dalam kepahitan wine. Seperti kata Gaius Plinius Secundus a.k.a Plinny the Elder, “In wine, there’s truth.”

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Leave a Reply