Yang SAIA

Kubuka Daftar Isi. Kutemui SAIA ada di bab tujuh dengan tulisan angka romawi. Langsung aku menuju halaman 71 dan SAIA tertera di sisi kiri.

Awalnya, paragraf pertama, menurutku biasa. Hanya tercetak tebal menjadi penanda paragraf pembuka.
Baru di paragraf kedua, aku mulai curiga. Coba kuteruskan ke paragraf ketiga. Aha! Ternyata begitu juga dengan paragraf keempat dan kelima!

SAIA kautuliskan dengan paragraf yang berima di akhirannya. Rima “i” untuk paragraf pertama. Barisan kata dengan akhiran “il” untuk pengakhir paragraf kedua. Yang ketiga kau bikin “u” sebagai rima. Akhiran “ah” buat alinea keempat, dan “an” untuk yang kelima.

Tapi, ternyata hanya segitu. Rima yang kau mainkan tak menjadi selalu. SAIA jadi kurang merdu bagiku. Karena di paragraf keenam dan seterusnya tak ada lagi rimamu.

Meneruskannya aku jadi kurang gairah. Apalagi SAIA mulai kau sisipi luka parah. Luka seorang bocah yang didapatinya malah dari sang ibu dan ayah. Belum lagi kau bikin pembaca susah payah. Menerka, mereka, menafsirkan siapa SAIA dan apakah ia yang bersalah?

Walau begitu, setidaknya aku harus memuji. Bukan cuma karena lima paragraf berima tadi. Tapi, kau benar-benar jeli dalam meramu SAIA ini.
Cerpen sentral yang menjadi wakil dari 17 cerpen yang ada itu kau letakkan tepat di tengah buku ini. Halaman ke 71 dari 139 halaman yang kau nomori. Ah cerdik sekali!

Dan kini malah angka 17 dan 71 itu ikut-ikutan menggoda naluri curigaku. Cerdas nian kau, Djenar Maesa Ayu!

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone
This entry was posted in Buku and tagged .

3 comments

Leave a Reply