Yang Saya Rasa di #KonserTentangRasa Frau

Selama setahun lebih sedikit tinggal di Jogjakarta, Alhamdulillaah, akhirnya bisa juga merasakan nikmatnya konser tunggal Frau, langsung di kota asalnya pada Jumat (30/10). Iya, saya patut bersyukur bisa nonton konser “Tentang Rasa” dari duo manusia dan piano (Leliyani ‘Lani’ Hermiasih dan Oscar) ini. Yang pertama, antriannya gila dan saya sempat mengurungkan niat ikut antri begitu mengawasinya di lini masa.

Tanggal tua bukan alasan bagi pecinta Frau untuk membeli tiket dan berpeluh keluh, luruh dalam antrian. Tiket untuk dua kali konser-dua hari, ludes dalam rentang waktu sekitar sejam. Namun, Alhamdulillah yah, antusiasme yang tinggi ini ditangkap @Kongsi_Jahat dengan membuka extra show untuk Jumat siang. Sa dapet yang ini sa.

Sementara yang kedua, karena ini berbayar. Iya lho, selama setahun di kota ini, tercatat tiga kali saya menyaksikan Frau dan hampir semuanya (maaf) di event gratisan, Ngayogjazz 2014, FKY 2015, serta acara di JNM yang disponsori salah satu pabrikan fragrance. Nah asyiknya, kali ini konser tunggal Frau bertema “Tentang Rasa” berbayar.

Tiada lah saya bermaksud sombong. Bagi saya, membeli tiket pertunjukan adalah satu bentuk bahwa kita bisa menghargai -baik literally atau tidak- karya seseorang. Selain itu, bagi saya musik sekelas Frau memang harusnya berbayar dan mahal. Terlalu indah bagi para pemburu gratisan macam saya ini eaaa.

Tapi dasar para penggagas acara di Jogja yang ide dalam otaknya suka salto jempalikan nggak karuan dan mencoba keluar, mereka kerap membuat acara gratisan dengan konsep yang sebenarnya mahal. Jazz yang identik dengan musik mahal dan rumit malah ditempatkan di desa-desa dengan gratisnya. Video mapping yang alat produksinya mahalnya nggak ketulungan itu, eh juga dibuat gratisan, dan banyak lagi lainnya. Seperti berjalan selaras dengan pesan untuk menahan arus pembangunan mall dan hotel yang kerap didengungkan JHF Crew, “Jogja Ora Didol” (Jogja tidak dijual).

Sementara konser Frau di Gedung Societet ini terbilang murah untuk konser tunggal, in-door ber AC, duduk empuk, dapat minuman pula, harganya Rp 50 ribu. Meski boleh lah dibilang murah, tapi konser ini tidak murahan. Tema Tentang Rasa sendiri jelas dapat diartikan bahwa pengalaman merasakan sesuatu adalah mahal harganya.

Sudah menjadi hukum di ekonomi mahal adalah jaminan kepuasan dan kenyamanan atau biasa diplesetin, murah kok njaluk slamet? Selayaknya alat transportasi, yang makin mahal makin banyak tuntutan demi kenyamanan, pun juga Tentang Rasa.

Konser ini ibarat naik pesawat yang meski kita udah bayar mahal tapi jika telat ditinggal.  Tapi di sini nggak pakai panggilan terakhir yang kadang berasa serem seolah hidup kita terakhir dan segera dipanggil. Nah, sebelum konser dimulai, selayaknya pesawat juga, prosedur standar keselamatan pun diperdengarkan. Yah hal-hal mengenai jumlah pintu keluar, letak toilet dan sebagainya, serta larangan selama pertunjukan: merekam secara keseluruhan isi konser. Tak lain ini semua demi kenyamanan pemirsa yang budiman.

Sama dengan konser Tanah Indah FSTVLST sebelumnya -yang saya nontonnya beberapa meter dari kursi Lani dan apesnya saya ditolak saat minta foto baren-, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya penggiat acara di Jogja sudah punya standar konsep sendiri. Konsep standar tinggi dengan ide brilliant untuk membuat konser indah di tanah mereka sendiri, di Jogja.

Foto hasil nyuri-nyuri kesempatan di sela-sela deretan kursi. Hihihi

Foto hasil nyuri-nyuri kesempatan di sela-sela deretan kursi. Hihihi

Itu yang saya rasakan tentang penyelenggaraan konser ini secara keseluruhan. Sementara yang berikutnya ini adalah apa yang saya rasakan dari suara indah Lani dan tangannya yang menjentik, melompat, bergetar dan menari di atas tuts demi tuts Oskar.

SESI PERTAMA

Merinding disko begitu seisi ruangan digelapkan usai Chicken Soup membuka konser ini dengan lima lagu. Lani lalu keluar berjalan membawa lentera dan menghampiri Oskar. Di lagu pertama saya susah mengingatnya ini lagu apa.. sepertinya sih Whisper, karena yang saya ingat saat itu hanyalah merinding disko di badan berubah menjadi merinding piano.

Setelah ber-say-hay dengan perkenalan templatenya, “Saya Lani, ini Oskar jreng jreng” itu, kompisisi asik “41” dinyanyikan Frau. Semua mungkin merasakan kenangan akan mengisi waktu menunggu pagi di saat camp atau melekan bareng teman atau saudara kita, bermain kartu 41. Tapi yang kurasakan lagu ini tentang kesempatan dalam hidup yang datang sesekali. Kadang menggampangkan kesempatan juga membuat kita kecele, lha wong ternyata sussssah.

Di lagu ketiga dan keempat, Lani memusikalisasikan puisi dari dua maestro pujangga Indonesia; puisi Amir Hamzah yang berjudul Berdiri Aku dan puisi Berita Perjalanan karya Sitor Situmorang. Ini kali ketiga saya menikmati itu, dua sebelumnya di FKY dan acaranya si parfum yang tak mau saya sebut namanya itu, dan rasanya selalu sama: indah dengan pemandangan jalan-jalan. Puisi Sitor yang berakhir sendu itu “Sejak itu sepakat kebuntuan jadi teman seperjalanan kekosongan” membuatku malas untuk berperjalanan jauh-jauh dan malas untuk menjelajahi alis seorang kekasih. Lha wong alis hari gini rata-rata hasil gambaran pinsil. Bukan lagi hasil karya Tuhan.

Dua lagu berikutnya yang dimainkan diambil dari Happy Coda: Water dan Mr Wolf. Terdengar biasa, karena saking seringnya itu lagu mampir di telinga dan hati saya. Toh saya tengah hanyut dengan Lani yang mulai ‘bisa ngomong’ dan sempat nyeletuk “Asuik”. Iki malah wangun lho Lan! Haha

Sesi pertama ditutup dengan lagu I’m a Sir. Terompet Erson membuat lagu ini makin jenaka. Kejenakaan memang yang saya rasakan setiap mendengarkan lagu ini. Di bayangan saya, Lani memakai tuxedo lengkap dengan topi sulap dan tongkat berloncatan di atas piano, begitu selalu.

SESI KEDUA

Setelah beristirahat dan minuman beraneka rasa dibagikan, Lani kembali lagi dan makin membuat saya menilai kalau ia makin bisa ngomong demi menjalin komunikasi dengan penonton.

Dua lagu di awal sesi ini, ia mengajak penonton yang hadir ikut menyanyikan satu dari dua lagu hasil Lani menerjemahkan lukisan tentang jagal. Liriknya yang diajak nyanyi bareng kira-kira begini “Tukang Jagal tak berperasaan, tak bersesal tak kenal tangisan..” Lagu yang kata Lani tentang anggapan kita kepada seseorang hanya berdasarkan status, siapa dia dan sejenisnya.

 


Lani pokoknya makin jago speech dan komunikatif lah intinya. Entah karena ini konser tunggal yang lagunya belasan dan biasanya saya cuma menikmati empat lima lagu saja di penampilan gratisan tadi.

Lihat bagaimana ia menceritakan tentang aroma dan wewangian yang dihadirkan di ruangan tersebut, yang mie instan saat lagu Mesin Penenun Hujan, lucu.

Atau bagaimana cerdasnya ia bercerita naik motor seharian dan mencium aroma apa saja demi menjelaskan konsep dari Tentang Rasa. Satu kalimat yang layak untuk diingat dari Lani adalah:

Bahwa musik itu adalah pengalaman kita merasakan sesuatu. Tidak melulu auditif, bukan hanya suara saja.

Beberapa lagu baru juga dibocorkan Lani di sesi kedua ini. Mulai Vietnamese Coffee Drip, Detik-Detik Anu hingga Layang-Layang. Ia juga membuka sedikit rahasia bagaimana ia berproses dalam membuat lagu selama 7 tahun ini.

Ada berbagai banyak rasa yang bisa dinikmati di Tentang Rasa ini. Semuanya tergantung penonton untuk memilih yang mana ia suka, meski untuk aneka minuman yang disuguhkan kita nggak bisa milih sih hehehe. Tapi, sekali lagi, Frau memberikan penegasan kepada kita untuk memilih rasa yang mana kesukaan kita. Dengan pemilihan Arah sebagai yang terakhir dari repertoarnya, konser yang sore ini seolah memberi pesan, “Ujung-ujungnya dikembalikan ke kita kok. Terserah mau pilih arah yang mana”.

Itu yang sore. Kalau yang Jumat malam katanya encorenya Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, ya berarti Lani mengajak kita pulang ke rumah masing-masing, untu memilih kembali rasa mana yang kita sukai. Karena kita udah tersesat di keindahan berbagai rasa tadi. Iya, tersesat.. seperti takkan pernah pulang.

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply