Yang SiTi

Begini. Karena MzDon makin malas saja meneruskan Rekomendeath dan lebih gemar mengicaukannya, saya teruskan saja semangat berbagi film-film bagus itu di sini. Yah, meski tak seindah punya MzDon, minimal saya belajar menulis tentang film lah. Dan, setelah menikmati beberapa film dengan tiduran tanpa membuat saya tertidur akhir-akhir ini, SiTi lah yang kemudian saya pilih sebagai film pertama pengisi kategori berbagi dan resensi.

SiTi adalah film Indonesia berbahasa Jawa dan monochrome (hitam-putih) yang pertama saya nikmati. Tapi bukan itu alasan saya sedikit me-review-nya usai nonton di Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya, UGM Senin (4/11) . Tiga logo dedaunan tanda menang beberapa penghargaan adalah jaminan. Beberapa teman yang sudah menyaksikannya juga merekomendasikan. Jadi lah saya memutuskan berangkat sendiri, tanpa teman, bak elang jantan yang senang terbang sendirian tiada berkawan.

Film produksi Four Colours tahun 2014 ini menceritakan sosok wanita dengan nama sesuai judul film tersebut yang diperankan Sekar Sari. Dikisahkan, Siti adalah seorang gadis pantai Parangtritis Yogyakarta. Tapi jangan pernah membayangkan kemegahan “Gadis Pantai” dalam imaji Pramoedya Ananta Toer yang disunting pejabat itu. SiTi yang ini adalah potret muram gadis pantai dengan kompleksnya beban hidup yang harus diemban.

Pict by: CinemaniaIndonesia

Ibu dari satu putra bernama Bagas (Bintang Timur) ini adalah pencari nafkah di keluarganya karena sang suami, Bagus (Ibnu Widodo) lumpuh tak berdaya. Jika siang, Siti menemani mertuanya (Titi Dibyo) berjualan Peyek Jingking di pantai dan jika malam ia bekerja menjadi LC (Ladies Companion) di rumah karaoke.

Menyebut LC, saya jadi ingat dengan “Purel”. Keduanya secara peruntukkan kebetulan sama: sebutan bagi gadis yang menemani di tempat hiburan malam dan karaoke. Tapi,…

“Purel” bagi saya merupakan singkatan/akronim yang penggunaanya bukan lagi hanya untuk mempermudah pelafalan, ia juga diperuntukkan sebagai pengaburan sekaligus pembagian status. “Purel” peruntukkannya, secara profesi, akan lebih nista ketimbang “PR” yang terkesan kantoran dengan pelafalan nginggris (pi-ar). Padahal keduanya berasal dari kata yang sama: Public Relation.

Pict dari CinemaIndonesia

Konflik demi konflik kian bertambah di cerita ini. Suami Siti yang sudah lumpuh itu enggan berbicara padanya karena pekerjaannya sebagai LC rumah karaoke. Siti pun harus nesu (marah) karenanya. Sebuah gambaran bahwa lumpuh pun, seorang lelaki masih bisa mendominasi.

Siti yang harus pintar-pintar membagi waktu untuk mengasuh dan menemani putranya belajar makin didesak dengan hutang suaminya saat membeli perahu dulu. Sementara rumah karaoke tempatnya bekerja juga digerebek polisi. Kian padat lagi konfliknya manakala Siti ditaksir Gatot (Haydar Saliz), seorang polisi yang kerap datang ke karaokenya.

Meski konflik kehidupan bertebaran, namun Eddie Cahyono cukup cerdas dalam men-direct cerita yang ia tulis sendiri itu. Hiasan sentilan di dialognya cukup membuat kita yang menikmati film ini bisa sedikit tertawa dan tidak melulu terkungkung pada konflik yang ada. Seperti, “Gusti Allah ora sare, Ti (Tuhan Tidak Tidur).” Yang dibalas Siti dengan, “Iyo, tapi piknik”.

Overall, ini film bagus menuju indah. #Rekomendeath lah bagi Anda yang belum nonton. Lha wong saya yang sudah nonton saja pingin nonton lagi (dengan catatan yang kedua nanti tanpa subtitle Englishnya. Malah ganggu konsentrasi dengan sibuk mengoreksi translate-nya?).

Sebarkan!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

Leave a Reply