Yang #TanahIndah @FSTVLST, Idealisme Berani yang Indah

Darah seni Yogyakarta tak pernah berhenti mengalir guna menciptakan senimannya. Di generasi ini, senyuman boleh tersungging lebar di bibir kita melihat dan menikmati FSTVLST (baca: festivalist). Band dengan paket seniman lengkap; perupa, pujangga, aktor dan musisi.

Konser yang bertajuk Tanah Indah di PKHH UGM, Rabu (18/02) lah yang membuat saya menuliskan paragraf pembuka review konser ini sedemikian rupa. FSTVLST memang paketan lengkap dari seni rupa, seni musik, sendratari, dan sastra. Indah!

Menyatukan Seni

Kata “indah” dan “memuaskan” berani saya pilih untuk menilai konser bermahar Rp 35 ribu ini. Meskipun sebenarnya saya hanya tahu sedikit beberapa lagu dan perjalanan Farid Stevi Asta (vokal), Robby Setiawan (gitar), Humam Mufid Arifin(bass), dan Danish Wisnu Nugraha (drum) dalam terbentuknya FSTVLST hingga mereka eksis kini.

Bukan, saya tak menilai konser ini indah hanya karena terpancing tema Tanah Indah. Tapi beberapa keindahan memang sudah menyambut kita di area konser ini. Sebelum ke venue konser yang baru dimulai sekitar pukul 20:30 WIB, penonton yang sudah mulai berdatangan ba’da magrib disuguhi pameran seni rupa di sebuah gedung yang terpisah dari venue konser. Pameran dengan tajuk yang menyatukan seni musik dan seni rupa, “Hampir Rock, Nyaris Seni”.

Foto, lukisan, serta berbagai bentuk lainnya diatur, ditabrakkan dengan nyentrik dan kontemporer. Mereka dibalut nuansa triwarna tegas; hitam, merah dan putih, disajikan dengan indah dalam gedung dua lantai tersebut. Pun begitu kala kita memasuki venue konser. Tumpukan kardus dengan triwarna tadi menghiasi sudut-sudutnya.

Pesan tersirat yang saya tangkap dari konsep Tanah Indah adalah, “Seni yang selama ini dikotak-kotakkan antara musik, seni rupa, sastra, teater dan cabang seni lainnya sebenarnya lebih indah disajikan bersamaan.”

Idealisme yang Berani

Selayaknya band yang lahir, berjuang dan bertahan di ranah indie, idealisme memang tak bisa terelakkan dan mengiringi FSTVLST. Terutama di konser ini.

Tapi, idealisnya FSTVLST di Tanah Indah ini saya rasa cukup cerdas dan tak cenderung egois. Semua detil tetap dipikirkan demi keindahan dan tentu saja kenyamanan pengunjung dalam menikmatinya.

Mulai dari sistem ticketing. Tanah Indah membatasi jumlah tiket dan tidak menyediakan pembelian tiket on the spot. Pembelian tiket melalui tempat yang sudah ditunjuk, on line dan terobosan cerdas penjaja tiket keliling di tempat tak terduga kecuali Anda memantau Twitter.

Tak cuma trik guna menghindari calo tiket yang selalu ada di hampir tiap konser, FSTVLST terlihat benar-benar ingin membuat penontonnya nyaman. Calon penonton tak akan menggerutu dengan calo atau sesak napas karena membludak dan berjubalnya pengunjung. Venue konser yang terdiri dari dua lantai sebenarnya cukup menampung sekitar 1500 orang, tapi jumlah penonton dibatasi 800 lembar saja. Tiket sold out tapi tetap lega dan sing a long together.

Itu satu, yang kedua, idealisme dari alur konser itu sendiri. Tiga lagu langsung digeber di opening tanpa salam basa-basi ke penonton. Mulai Orang-Orang di Kerumunan, Bulan, Setan atau Malaikat, dan Satu Terbela Selalu.

Farid baru menyapa penonton ketika memasuki lagu keempat yang menjadi tema konser ini, Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan. Sapaan Farid ke penonton menunjukkan idealisme mereka. “Ini adalah konser kami, bukan kalian. Malam ini kalian akan tahu kami yang sebenarnya. Kami jujur di sini.”

Memang, band indie kala manggung memenuhi undangan gigs atau konser, mau tak mau harus terbawa konsep pesanan sponsor atau tema undangan. Berbeda dengan konser tunggal, apalagi dari band indie, yang membuat mereka lebih bebas serta jujur. Saya rasa tak banyak (sepengetahuan saya malah hampir tak ada) band indie yang berani membuat konser tunggal.

Ini asyiknya mereka, berani menunjukkan idealismenya. Keberanian itu lah yang membuat panggung musik disulap berbeda oleh FSTVLST. Aksi teatrikal Farid membawa buku untuk berpuisi, berpayung di lagu Hujan Mata Pisau, dan berkerudung di lagu Akulah Ibumu menunjukkan keberanian mereka. Ditunjang video maping dan permainan lampu sorot yang menyesuaikan tema lagu, idealisme ditunjukkan dengan berani demi keindahan.

“Kalian pasti pernah merasakan dihadapkan pada sebuah pilihan. Hitam atau putih, kanan atau kiri, berhenti atau lanjut. Kami pernah dihadapkan pilihan berhenti karena JENNY, atau melanjutkan dengan FSTVLST. Kami memilih lanjut karena berani. Keberanianlah yang menyelamatkan!”

Ungkapan tegas Farid itu sedikit banyak membuat saya tahu apa dan bagaimana FSTVLST. Mereka terbentuk karena JENNY bubar.

Reuni Farid dan Robby dengan JENNY indah dan meriah. Mulai format akustikan di atas sofa hingga band, penonton yang merupakan loyalis mereka tetap bisa koor bareng menyanyikan lagu-lagu lama JENNY seperti Manifesto, Mati Muda dan entahlah lagu apa lagi lainnya. Saya hanya bisa tercengang menyaksikan romantisme antara ingatan dan kenangan. Antara ingatan tentang lirik dan irama lagu berbaur dengan kenangan mereka di setiap lagunya.

FSTVLST yang baru punya 10 lagu di album Hits Kitsch layak berterimakasih dengan JENNY di malam itu. Reuni ini lah yang menyelamatkan FSTVLST di konser berdurasi sekitar dua jam ini dari keterbatasan jumlah lagu.

Penasaran Terpuaskan

Jujur saja, kebersediaan saya menonton konser ini tak lepas dari rasa penasaran dengan lagu yang sebenarnya musikalisasi pusi, Hal Hal Ini Terjadi. Setiap memahami bait demi baitnya tentang perpindahan jenis jaman itu, saya selalu diliputi rasa penasaran bagaimana mereka akan menyajikannya di atas panggung.

Rasa penasaran saya terjawab. FSTVLST menjadikan lagu ini sebagai waktu mereka untuk beristirahat. Sebagai gantinya, Gunawan Maryanto yang berpuisi diiringi duo terompet dan drum machine.

Meski Gunawan cukup apik mendeklamasikannya, (terang lah ini ranah dia), masih ada kecewa yang terhias di sudut puas saya. Mungkin karena terkungkung bayangan dan keinginan Farid lah yang berdeklamasi.

Tapi kekecewaan saya dibayar tuntas dengan lagu Akulah Ibumu. Saya tak pernah dengar lagu ini, karena seringnya CD di mobil teman malah saya repeat di lagu Menantang Rasi Bintang dan Hal Hal Ini Terjadi. Saat video klip lagu ini ditunjukkan dan diperdengarkan, saya merinding. Pun begitu diulang di atas panggung dengan sindennya, sumpah saya merinding. Terutama di bait, “…Ibu.. kau Ratu..”.

Ah! Saya puas dan terhibur dengan konser ini. Semua lagu layak diingat, semua aksi layak dikenang, segala pernak-pernik konser ini layak disimpan. Karena collectable item penunjang ingatan dan kenangan tadi tersedia di booth merchandise, saya mampir juga lho. Mumpung CD mereka lagi didiskon untuk pemakai wristlet ticket, saya beli yang ini.

Bukankah dengan membeli CD, kita tak hanya menghargai karya mereka? Setidaknya inil bisa menjadi langkah untuk menyelamatkan industri musik tanah indah (air) Indonesia ini.

Sebarkan!Share on Facebook5Tweet about this on TwitterShare on Google+1Email this to someone

One comment

Leave a Reply